Apa Itu Rhinitis Non-Alergi? Jenis dan Penyebabnya

  • February 15, 2021

Saat seseorang menderita rhinitis, bagian dalam hidung menjadi meradang, membengkak, dan menyebabkan gejala seperti demam seperti gatal, hidung tersumbat, hidung meler, dan bersin-bersin. Rhinitis alergi disebabkan karena alergi. Jika rhinitis tidak disebabkan oleh alergen, kondisi ini disebut dengan istilah rhinitis non-alergi. Gejala rhinitis alergi dan non-alergi sama, namun penyebabnya berbeda. Orang-orang dengan rhinitis non-alergi mungkin memiliki hidung meler yang tidak kunjung sembuh, atau gejala tersebut sering kembali muncul. 

Jika seseorang memiliki rhinitis, pembuluh darah di dalam hidung membesar, menyebabkan lapisan hidung membengkak. Hal ini menstimulasi kelenjar lendir di hidung, membuatnya tersumbat ataupun menetes. Rhinitis non-alergi dapat menyerang anak dan orang dewasa. Wanita dapat lebih rentan menderita hidung tersumbat pada saat menstruasi atau hamil. Ada beberapa jenis rhinitis non-alergi, di antaranya adalah:

  • Rhinitis infeksi

Dikenal pula dengan istilah rhinitis virus, kondisi ini disebabkan karena sebuah infeksi seperti demam atau flu. Lapisan hidung dan tenggorokan menjadi meradang saat virus menyerang daerah tersebut. Peradangan memicu produksi lendir, dan hal ini menyebabkan bersin-bersin atau hidung meler. 

  • Vasomotor rhinitis

Kondisi ini terjadi ketika pembuluh darah di hidung terlalu sensitif, dan adanya kontrol saraf tidak normal pada pembuluh darah di hidung. Hal ini menyebabkan terjadinya peradangan. Biasanya, kontraksi dan pembesaran pembuluh darah di dalam hidung membantu mengontrol aliran lendir. Apabila pembuluh darah terlalu sensitif, pemicu lingkungan tertentu dapat membuatnya membesar. Hal ini dapat menyebabkan hidung tersumbat dan produksi lendir berlebih. Beberapa pemicu vasomotor rhinitis di antaranya adalah iritan kimia, parfum, bau cat, asap, perubahan kelembapan, turunnya suhu udara, konsumsi alkohol, makanan pedas, dan stres mental. 

  • Atrophic rhinitis

Kondisi ini terjadi ketika selaput di dalam hidung, yang disebut jaringan turbinate, menjadi lebih tipis dan lebih keras, menyebabkan saluran hidung menjadi melebar dan lebih kering. Jaringan tribunate membantu menjaga bagian dalam hidung lembap, melindungi dari bakteri, dan membantu mengatur tekanan udara saat menarik nafas, serta mengandung akhiran saraf yang memberi indera penciuman. Saat jaringan turbinate menipis, bakteri dapat tumbuh dalam rongga hidung dengan mudah, sehingga hilangnya jaringan turbinate meningkatkan kemungkinan infeksi dan operasi hidung. 

Dalam kasus rhinitis non-alergi ini, kerak (yang memiliki bau tidak sedap) terbentuk di dalam hidung. Apabila Anda berusaha untuk mengambilnya, pendarahan dapat terjadi. Ada pula gejala hilangnya kemampuan untuk mencium bau. Hilangnya jaringan turbinate terjadi dengan bertambahnya usia. Kondisi ini juga dapat terjadi akibat komplikasi operasi hidung atau infeksi. Atrophic rhinitis lebih sering terjadi pada orang-orang yang pernah mendapatkan operasi hidung beberapa kali, atau merupakan komplikasi dari satu prosedur yang salah. 

  • Rhinitis medikamentosa

Rhinitis jenis ini terjadi karena penggunaan obat-obatan. Kondisi ini dapat terjadi karena penggunaan berlebih dekongestan hidung, beta blocker, aspirin, atau bahkan cocaine. Dekongestan hidung mengurangi pembengkakan di pembuluh darah di dalam hidung. Apabila digunakan lebih dari 1 minggu, obat tersebut dapat membuat hidung meradang kembali, bahkan apabila kondisi awal penyebab (seperti demam) telah sembuh. 

Rhinitis non-alergi bukanlah sebuah kondisi yang dapat dicegah. Namun, para pasien yang didiagnosa menderita kondisi ini disarankan untuk menghindari hal-hal yang dapat memicu terjadinya gejala. Dalam kasus atrophic rhinitis, lavage dan lubrikasi hidung dapat mencegah terjadinya kerak dan membantu menjaga lapisan hidung tetap lembap. Irigasi harian pada saluran hidung merupakan praktik pencegahan yang baik.

Bart

E-mail : admin@cremasonline.com

Submit A Comment

Must be fill required * marked fields.

:*
:*