5 Balsem Bayi Berbahan Alami dengan Kehangatan yang Pas untuk Si Kecil

  • September 21, 2021

Bayi dan anak-anak memiliki sistem kekebalan yang lebih rendah karena sistem imun mereka masih berkembang dan belum sempurna. Oleh karena itu mereka rentan terserang penyakit, terutama ketika musim hujan melanda. 

Penggunaan balsem bayi bisa membantu menghangatkan tubuh anak Anda di tengah cuaca yang dingin. Selain itu, kandungan dalam balsem bayi juga dapat membantu meredakan gejala pilek dan batuk serta kegunaan lainnya. 

Balsem bayi dan anak bantu redakan gatal akibat gigitan nyamuk

Rekomendasi Balsem Bayi Berbahan Alami

Berikut ini 5 balsem bayi berbahan alami yang aman digunakan pada bayi berusia 0 bulan hingga 2 tahun: 

  1. Transpulmin Baby Balsam

Transpulmin Baby Balsam merupakan obat balsem gosok bersertifikat halal dengan bahan aktif alami minyak eukaliptus. Minyak eukaliptus memberikan efek hangat dan bisa membantu meredakan nyeri dan sakit ringan pada si kecil, termasuk nyeri punggung, sakit kepala, perut kembung, dan pegal-pegal. 

Balsem bayi Transpulmin juga dilengkapi dengan ekstrak bunga kamomil yang terkenal akan aroma wanginya yang menenangkan. Mengusapkan Transpulmin Baby Balsam pada dada, punggung, atau leher sang buah hati efektif menenangkan si kecil ketika rewel dan membuatnya tidur lebih nyenyak.

  1. Kinderen Baby Balsam

Kinderen Baby Balsam mengandung kombinasi minyak ekaliptus dan bunga chamomile yang bisa digunakan untuk meredakan perut kembung dan mengurangi rasa gatal dan kemerahan akibat gigitan nyamuk atau serangga. 

Balsem bayi ini juga efektif melegakan hidung tersumbat akibat pilek dan flu serta meredakan batuk berdahak. Kinderen Baby Balsam bisa digosokkan sebanyak 2 hingga 3 kali pada dada dan leher untuk melegakan pernapasan, dan punggung untuk menghangatkan tubuh si kecil. Ibu juga bisa mengusapkan balsem bayi ini ke tubuh anak ketika sang buah hati rewel tidak mau tidur.

  1. Bambi Baby Telon Balm

Bambi Baby Telon Balm merupakan salah satu balsem bayi yang telah lulus uji dermatologis sehingga aman untuk kulit bayi yang sensitif. Balsem bayi ini diformulasikan dengan anti-irritant alami seperti licorice, ekstrak bunga kamomil, dan provitamin B5 untuk membuat kulit bayi tetap hangat tanpa membuatnya iritasi. 

Sayangnya, balsem bayi ini mengandung Eucalyptus globulus dan camphor sehingga hanya boleh digunakan pada anak berusia 2 tahun ke atas.

  1. Buds Organics Calming Rub Cream

Jika Anda tertarik dengan bahan organik dan premium, Anda bisa mencoba Buds Organics Calming Rub Cream. Balsem bayi ini mengandung kombinasi peppermint, jahe, dan minyak adas untuk menghasilkan efek hangat yang efektif meredakan perut kembung sang buah hati. 

Terdapat juga kandungan minyak lavender organik yang efektif menenangkan si kecil dengan aroma menenangkannya. Selain itu, balsem bayi ini juga mengandung ekstrak lidah buaya dan ekstrak krokot untuk menjaga kulit tetap lembab dan lembut meski cuaca sedang dingin atau panas. 

  1. Zarbee’s Naturals Baby Shooting Chest Rub

Zarbee’s Naturals Baby Shooting Chest Rub merupakan balsem bayi yang terbuat dari 100% bahan alami dan tanpa kandungan gluten, laktosa, pewarna, serta perasa buatan sehingga aman digunakan untuk bayi di bawah usia 1 tahun. Balsem bayi ini juga tidak mengandung petroleum dan mentol sehingga kulit si kecil aman dari risiko iritasi kulit.

Itu tadi 5 rekomendasi balsem bayi berbahan alami yang aman digunakan pada bayi dan anak-anak. Karena terbuat dari bahan alami, Anda tak perlu khawatir akan risiko iritasi yang biasa disebabkan balsem lainnya.

Makanan-Makanan Penyebab Alergi pada Bayi

Makanan-Makanan Penyebab Alergi pada Bayi

  • June 9, 2021

Usia enam bulan menjadi waktu awal bagi bayi untuk mulai mengenal makanan selain ASI. Pada usia ini, orang tua sebaiknya mulai memperkenalkan berbagai jenis makanan dalam bentuk MPASI. Namun, dalam proses mengenal berbagai jenis makanan, anak kerap dihadapkan pada masalah alergi. Alergi pada bayi ini biasanya terjadi karena ada suatu reaksi kekebalan tubuh yang menyimpang dan akibatnya langsung ditunjukkan oleh tubuh.

Tubuh bayi maupun dewasa memiliki antibodi yang disebut IgE, yang merupakan protein pendeteksi zat makanan yang masuk ke dalam tubuh. Ketika zat makanan tertentu yang menyebabkan alergi masuk, antibodi ini akan melepaskan zat-zat seperti histamin. Nah, inilah yang menyebabkan reaksi alergi, baik ringan maupun berat.

Adapun beberapa makanan penyebab alergi pada bayi yang paling umum adalah sebagai berikut:

  • Telur

Meski tinggi akan kandungan protein, vitamin, dan mineral, protein dalam putih telur berpotensi menimbulkan alergi. Adapun tiga jenis protein yang memicu alergi adalah ovomucoid; ovalbumin; dan conalbumin.

Gejala alergi yang timbul akibat konsumsi telur antara lain muntah, diare, dan asma. Reaksi alergi terhadap telur juga bisa timbul pada kulit si kecil berupa gatal-gatal, kulit memerah, atau bentol/bengkak. Mata berair dan bersin juga bisa jadi gejala alergi terhadap telur.

Apabila salah satu gejala muncul, sebaiknya kamu hentikan dulu penggunaan telur dalam bubur bayi.  Konsultasikan ke dokter anak dan cari tahu penyebab yang mungkin dapat memicu alergi pada bayi. 

  • Susu sapi

Susu sapi merupakan penyebab alergi yang sangat umum terjadi pada kebanyakan bayi. Bila bayi alergi terhadap susu sapi atau turunannya, maka beberapa penanganan yang dilakukan oleh dokter anak umumnya akan menyarankan makanan yang terbuat dari protein susu sapi yang telah terhidrolisa sehingga tidak menimbulkan alergi pada bayi, atau menyarankan makanan dengan protein dari kedelai.

Tidak semua masalah perut pada bayi atau rewel setelah menyusu adalah gejala alergi susu sapi. Konsultasikan dengan dokter untuk mengetahui penyebab pastinya. Karena ada sejumlah masalah pada bayi dengan gejala yang hampir serupa.

  • Gluten

Gluten adalah protein yang terdapat dalam biji-bijian, seperti beras dan gandum. Tapi, intoleransi gluten bukanlah alergi, melainkan sensitif terhadap makanan yang mengandung gluten. Olahan yang mengandung gluten antara lain makanan berbahan tepung seperti mi, roti, dan kue.

Gejala intoleransi gluten pada bayi terkadang tidak terlihat langsung atau sangat ringan. Kadang gejalanya hanya ditunjukkan dari tidak bertambahnya berat badan, tanpa keluhan lainnya. Jika anakmu mengalami intoleransi terhadap bahan ini, pencernaan dia akan bereaksi dengan menunjukkan gejala seperti kembung, diare, dan sembelit.

  • Ikan dan makanan laut

Ikan laut juga rentan menimbulkan alergi pada bayi. Gejala paling umum terhadap alergi ikan laut adalah gatal-gatal pada kulit. Selain itu, gejala alergi ikan juga bisa berupa muntah atau diare. Jika bayi menunjukkan tanda-tanda alergi ikan laut, kamu bisa ganti protein harian dengan bahan lain. Setelah gejala mereda, barulah kamu bisa memberikan ikan air tawar sebagai alternatif.

Di sisi lain, jika bayi alergi terhadap ikan laut tertentu, belum tentu ia juga alergi terhadap makanan laut lainnya, seperti udang. Karena itu, kamu harus teliti saat menyiapkan bahan makanan bayi untuk menganalisis apa penyebab alergi pada anak.

  • Kacang

Kacang merupakan salah satu makanan yang umum menyebabkan alergi pada bayi dan anak-anak. Protein nabati yang terdapat dalam kacang tanah termasuk tinggi. Beberapa makanan pendamping ASI yang mengandung kacang tanah dapat menyebabkan rasa gatal pada tubuh bayi, juga munculnya bisul-bisul dengan warna kemerahan pada area tangan dan wajah bayi.

***

Nah, itulah beberapa informasi mengenai alergi pada bayi. Agar terhindar, sebagai orang tua kamu harus mengenali alergi makanan yang akan dikonsumsi buah hati. Lalu, konsultasikan dengan dokter tentang gejala alergi pada bayi yang dialami sehingga dokter bisa memberikan penanganan tepat. Terakhir, kendalikan alergi pada bayi dengan cara menghindarkan anak dari makanan-makanan yang mengakibatkan alergi.

mpasi 6 bulan

6 Variasi Puree Buah untuk MPASI 6 Bulan Bayi Anda

  • June 7, 2021

Puree buah dikenal sebagai salah satu menu MPASI 6 bulan terbaik. Biasanya puree buah bermanfaat untuk mengenalkan beragam tekstur dan rasa untuk si kecil.

MPASI 6 bulan adalah masa penting dalam tumbuh-kembang si kecil. Di usia ini umumnya mereka sudah mulai bisa mengenal makanan padat meski masih mengandalkan ASI atau susu formula sebagai sumber nutrisi utama.

Sebagai orang tua baru, Anda juga harus mengenali buah yang cocok dan dibutuhkan si kecil. 

Lalu apa saja variasi puree buah untuk MPASI 6 bulan bayi? Yuk simak selengkapnya di bawah ini!

Tips dalam menyiapkan puree buah untuk bayi

Kukus buah-buahan sampaI bayi minimal berusia 8 bulan. Mengukus buah membantu mengubah tekstur jadi lebih lembut sehingga lebih mudah dicerna bayi. Tentunya ada beberapa buah yang bisa langsung dihaluskan tanpa dikukus seperti pisang atau alpukat.

Selalu sajikan puree buah segar dan hangat. Meski ada beberapa puree yang bisa dibekukan, lebih baik bagi bayi mengonsumsi puree maksimal 2 jam setelah dimasak.

Pastikan Anda mengenalkan masing-masing buah secara terpisah. Setelah itu, Anda bisa mengombinasikan dua atau tiga buah jadi satu.

Anda bisa menghaluskan buah dengan garpu atau masher, tidak harus selalu menggunakan blender atau mixer.

Jika puree terlalu kental setelah dingin, Anda bisa mengencerkannya dengan menambahkan ASI atau susu formula.

Jika Anda mendapati resep puree buah plus susu formula, pastikan untuk tidak merebut atau memasak susu formula bersamaan. Siapkan puree dengan air hangat, baru setelahnya tambahkan susu formula.

Jika bayi menunjukkan reaksi alergi terhadap suatu buah, segera hentikan konsumsinya.

Nah setelah memahami tips-tips di atas, berikut beberapa pilihan puree buah yang bisa Anda coba siapkan untuk si kecil:

1. Puree apel (6 bulan+)

Apel pada umumnya manis, lembut, dan mudah dicerna oleh bayi. Karena itu, apel biasanya jadi salah satu makanan pertama yang ideal untuk dikenalkan pada si kecil.

Puree apel kaya vitamin C dan pada umumnya disukai oleh semua bayi. Jangan pilih apel yang terlalu asam untuk perkenalan pertama, coba pilih apel manis dengan rasa yang tidak terlalu kuat.

2. Puree alpukat (6 bulan+)

Alpukat kaya akan nutrisi dan puree alpukat dapat dibuat dengan mudah dan cepat. Anda tidak perlu memasak apa pun, cukup haluskan alpukat dengan garpu atau masher.

Nah karena rasa alpukat yang tawar, mungkin ada beberapa bayi yang menolaknya. Untuk itu coba kombinasikan alpukat dengan pisang.

3. Puree pir (6 bulan+)

Pir memiliki tekstur yang sama dengan apel dan mengandung nutrisi yang hampir sama.

Pada umumnya pir terasa manis lembut dan diperkaya vitamin yang dapat mencegah konstipasi pada bayi. Biasanya puree pir adalah salah satu pilihan awal yang aman, sama dengan apel.

4. Puree pisang (6 bulan+)

Pisang adalah salah satu makanan yang bagus untuk si kecil karena kandungan potasium yang tinggi dan rasanya yang manis.

Pada umumnya pisang mudah dicerna, pastikan Anda memilih pisang yang matang. Pisang akan lebih mudah dicerna oleh lambung si kecil.

5. Puree melon (6 bulan+)

Melon dikenal sebagai buah yang kaya air dan lembut, karena itu sangat cocok dibuat puree untuk bayi.

Anda bisa mengenalkan melon kuning terlebih dahulu yang kaya akan antioksidan dan serat. Puree melon bagus untuk mencegah masalah pencernaan dan konstipasi pada bayi.

6. Puree pepaya (6 bulan+)

Pepaya adalah buah yang kaya air dan mengandung banyak nutrisi untuk bayi. Buah ini termasuk salah satu yang paling mudah didapatkan di Indonesia.

Seharusnya puree pepaya sudah cukup untuk si kecil. Namun, jika kebetulan pepaya terasa pahit, Anda bisa mengombinasikannya dengan apel atau pisang (asalkan sudah mengenalkan setiap buah satu per satu secara terpisah).

Pilihan puree buah lainnya

Nah 6 opsi puree di atas umumnya lebih aman dikenalkan untuk bayi berusia 6 bulan. Setelahnya, seiring dengan perkembangan bayi, Anda bisa mengenalkan beberapa puree lain yang mungkin punya rasa lebih kuat.

Berikut beberapa pilihan puree yang bisa Anda coba setelah bayi menginjak usia 8 bulan atau lebih:

  • Puree kiwi (8 bulan+)
  • Puree mangga (8 bulan+)
  • Puree semangka (8 bulan+)
  • Puree apel+pir (8 bulan+)
  • Puree apel+pisang (8 bulan+)

Demikian beberapa pilihan puree buah untuk MPASI 6 bulan bayi Anda. Tentunya Anda harus memperhatikan reaksi saat mengonsumsi buah-buah tersebut. Jika si kecil menunjukkan tanda-tanda alergi, segera hentikan konsumsi buah tersebut. 

Memperkenalkan Milna Puff Untuk Bayi

  • June 4, 2021
Milna Puff

Pada saat anak berusia 6 bulan, si kecil membutuhkan lebih banyak nutrisi dan telah siap untuk memulai mencoba makanan padat atau MPASI. Para ahli sangat merekomendasikan untuk hanya memberikan ASI pada 6 bulan pertama kehidupan anak dan terus memberinya ASI hingga berusia 2 tahun atau lebih. ASI merupakan bahan makanan yang sangat ideal untuk bayi. Jika Anda tidak dapat memberi anak ASI, gunakan formula yang telah difortifikasi zat besi. Bayi tidak membutuhkan cairan atau makanan padat lainnya saat berusia di bawah 6 bulan. Baru setelah ia berusia 6 bulan, camilan MPASI seperti Milna puff dapat diberikan. 

Bayi yang diberi ASI eksklusif dan bayi yang diberi kombinasi antara ASI dan formula membutuhkan 400 IU vitamin D setiap harinya dari suplemen. Sementara bayi yang diberi formula saja tidak membutuhkan suplemen vitamin D. Bayi sudah dapat memulai mengonsumsi makanan padat seperti Milna puff saat ia berusia 6 bulan, di mana merupakan waktu tepat di mana ia bisa mendemonstrasikan rasa ketertarikan dan penasaran akan makanan padat dan perilaku makan keluarga, telah mulai transisi dari menggunakan refleks mengisap menjadi menelan dan tidak mendorong sendok atau benda lain menggunakan lidah saat diletakkan di mulut, dapat duduk tanpa bantuan apapun, dan memiliki kontrol kepala dan leher yang baik. 

Pada saat bayi Anda siap untuk mulai mengonsumsi makanan padat seperti Milna puff, pastikan Anda mengikuti panduan yang direkomendasikan, seperti terus menawarkan ASI atau formula saat memperkenalkan MPASI dan berikan bayi makanan tinggi zat besi, misalnya cereal bayi yang difortifikasi zat besi, ikan atau daging yang telah dilembutkan, kuning telur yang dihaluskan, dan tahu. Penting untuk diingat agar Anda tidak menambahkan cereal ke dalam botol bayi. Beri si kecil makan lewat sendok dan cereal dapat ditambah ASI, formula, atau air untuk membuatnya lebih kental. Saat keberagaman diet si kecil bertambah atau meningkat, tambahkan makanan yang kaya kandungan vitamin C, seperti jeruk, buah beri, tomat, dan bayam bersamaan dengan makanan yang tinggi kandungan zat besi. Vitamin C dapat membantu bayi menyerap zat besi. 

Anda juga perlu memantau si kecil sebelum memperkenalkan makanan baru lain. Strategi ini dapat membantu mengidentifikasi makanan yang dapat menyebabkan reaksi seperti ruam, muntah, kemerahan, gatal-gatal, dan diare dengan cepat. Jika Anda memiliki riwayat keluarga menderita alergi, konsultasi dengan ahli diet atau dokter. Para ahli tidak akan merekomendasikan pemberian makanan apapun untuk mencegah terjadinya alergi, termasuk beberapa alergen yang umum menyebabkan reaksi alergi, seperti kacang, telur, produk susu (seperti yogurt dan keju), gandum, kacang kedelai, makanan laut, dan wijen. 

Perkenalkan makanan tersebut secara perlahan dan satu per satu dalam setiap waktu. Hal ini akan dapat membantu Anda mengidentifikasi apakah sebuah makanan dapat menyebabkan reaksi alergi seperti gatal-gatal, ruam, pembengkakan, dan kemerahan. Jika Anda berpikir bahwa anak memiliki reaksi alergi terhadap makanan, hentikan pemberian makanan tersebut dan berkonsultasilah dengan dokter. Berikan anak berbagai macam jenis makanan namun dengan tekstur yang lunak, seperti Milna puff, telur matang, dan pisang. Pastikan tidak ada potongan yang dapat menyebabkan tersedak. Saat bayi tidak lagi minum ASI ataupun formula, dokter dapat merekomendasikan suplemen vitamin D. Tanya dokter seberapa banyak anak membutuhkan vitamin D dan sumber vitamin D apa saja yang baik dan aman untuk bayi. 

Cara Perawatan Hemangioma pada Bayi

Cara Perawatan Hemangioma pada Bayi

  • May 20, 2021

Hemangioma pada bayi, atau hemangioma infantil, adalah pertumbuhan pembuluh darah non-kanker. Mereka adalah pertumbuhan atau tumor paling umum pada bayi-bayi. Mereka biasanya tumbuh untuk jangka waktu tertentu dan kemudian mereda tanpa pengobatan.

Mereka tidak menimbulkan masalah pada kebanyakan bayi. Namun, beberapa hemangioma bisa terbuka dan berdarah atau membusuk. Ini mungkin menyakitkan. Bergantung pada ukuran dan lokasinya, mereka mungkin menodai. Selain itu, mereka dapat terjadi dengan sistem saraf pusat atau kelainan tulang belakang lainnya.

Pertumbuhan juga dapat terjadi dengan hemangioma internal lainnya. Ini mempengaruhi organ dalam seperti:

  • hati
  • bagian lain dari sistem pencernaan
  • otak
  • organ sistem pernapasan

Hemangioma yang mempengaruhi organ biasanya tidak menimbulkan masalah.

Seberapa umum Hemangioma?

Hemangioma Infantil akan muncul kemungkinan dari setiap 100 bayi yang lahir, ada sekitar 4 hingga 5 bayi akan memilikinya. Hemangioma Infantil ini akan lebih sering terjadi pada bayi yang berkulit putih. Kemudian, Hemangioma Infantil ini akan lebih sering muncul pada bayi perempuan dibandingkan pada bayi laki-laki. Lalu juga, akan muncul hemangioma Infantil ini pada bayi yang prematur cenderung lebih memiliki risiko yang tinggi mengalami hemangioma Infantil ini. 

Masalah apa yang dapat disebabkan oleh hemangioma Infantil, dan kapan harus dirawat?

Sebagian besar hemangioma Infantil hilang dengan sendirinya selama beberapa tahun tanpa masalah. Namun, dapat menyebabkan masalah dalam beberapa kasus.

Hemangioma Infantil dapat meninggalkan bekas luka atau kulit ekstra pada beberapa bayi.

 Jika hemangioma pada bayi Anda berada di tempat yang terlihat, seperti di wajah, bicarakan dengan dokter untuk perawatan kesehatan bayi Anda tentang apakah Anda harus mempertimbangkan pengobatan.

Terkadang, hemangioma Infantil bisa melepuh (memborok) atau terinfeksi. Hemangioma Infantil yang terinfeksi dapat terasa sakit dan dapat meninggalkan bekas luka yang lebih parah.

Tanda-tanda hemangioma Infantil yang terinfeksi mungkin termasuk nyeri, kemerahan, pengerasan kulit, keluarnya cairan, atau bau tak sedap yang berasal dari hemangioma Infantil. Hubungi dokter perawatan kesehatan bayi Anda jika bayi Anda mengalami gejala-gejala ini.

Hemangioma Infantil di dekat mata, hidung, atau mulut dapat menyebabkan masalah dengan penglihatan, pernapasan, atau makan. Masalah ini jarang terjadi tetapi mungkin permanen jika IH tidak ditangani lebih awal. Untuk hemangioma Infantil yang lebih parah ini, dokter kesehatan bayi Anda dapat mengirim bayi Anda ke spesialis.

Jika hemangioma Infantil bayi Anda tidak mulai menyusut dan hilang dengan sendirinya, bicarakan dengan profesional perawatan kesehatan bayi Anda tentang apakah perawatan mungkin diperlukan.

Bagaimana hemangioma pada bayi berkembang?

Di kulit

Hemangioma pada kulit berkembang ketika ada proliferasi pembuluh darah yang tidak normal di satu area tubuh.

Para ahli tidak yakin mengapa pembuluh darah berkelompok seperti ini, tetapi mereka yakin itu disebabkan oleh protein tertentu yang diproduksi di plasenta selama kehamilan saat Anda berada di dalam rahim.

Hemangioma pada kulit bisa terbentuk di lapisan atas kulit atau di lapisan lemak di bawahnya, yang disebut lapisan subkutan. Pada awalnya, hemangioma mungkin tampak seperti tanda lahir merah di kulit. Perlahan, itu akan mulai menonjol ke atas dari kulit. Namun, hemangioma biasanya tidak muncul saat lahir.

Di hati

Hemangioma hati terbentuk di dalam dan di permukaan hati. Ini bisa berhubungan dengan hemangioma infantil, atau bisa juga tidak berhubungan. Hemangioma hati non-infantil dianggap sensitif terhadap estrogen.

Selama menopause, banyak wanita diresepkan estrogen pengganti untuk meminimalkan gejala yang disebabkan oleh penurunan kadar estrogen alami mereka.

Estrogen yang berlebihan ini dapat memacu pertumbuhan hemangioma hati. Demikian pula, kehamilan dan terkadang pil kontrasepsi oral dapat meningkatkan ukuran hemangioma.

Susu Soya untuk Bayi, Ketahui Pro dan Kontranya

  • March 30, 2021

Susu kedelai atau susu soya untuk bayi biasanya diberikan sebagai pengganti bila anak alergi terhadap susu sapi. Akan tetapi, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan sebelum Anda memberikan si Kecil susu kedelai.

Apakah Susu Soya Cocok Dikonsumsi oleh Bayi?

Nutrisi yang terkandung dalam susu soya memang tidak selengkap nutrisi ASI ataupun susu formula. ASI dan susu formula mengandung semua nutrisi yang dibutuhkan oleh bayi. 

Namun, jika keluarga Anda vegetarian atau si Kecil memiliki alergi terhadap susu sapi atau karena kondisi kesehatan tertentu, tidak ada salahnya memberikan susu kedelai tanpa gula yang sudah diformulasikan.

Usahakan memilih susu soya dari kedelai utuh, bukan susu rendah lemak atau tanpa lemak. Pilih juga susu kedelai yang diperkaya dengan vitamin dan mineral tambahan, yang akan dibutuhkan oleh bayi selama masa pertumbuhan dan perkembangan.

Susu Soya tidak boleh dikonsumsi oleh bayi yang berusia di bawah 1 tahun. Saat bayi berusia 0-6 bulan, hanya boleh diberikan ASI atau susu formula saja. Setelah memasuki usia 6 bulan, si kecil diberikan juga makanan pendamping ASI (MPASI), dengan tetap mengonsumsi ASI atau susu formula. Hal ini untuk memenuhi kebutuhan gizi si Kecil.

Bayi yang sudah berusia 1 tahun ke atas, masih lebih baik diberikan susu sapi. Akan tetapi jika memang ada kondisi kesehatan atau alergi terhadap susu sapi, maka berikanlah susu kedelai tanpa gula yang sudah diformulasikan. Tentu ini sesuai dengan saran dokter.

Beberapa kondisi yang memperbolehkan bayi mengonsumsi susu soya tanpa gula yang sudah diformulasikan adalah sebagai berikut:

  • Alergi terhadap susu sapi
  • Keluarga vegetarian atau tidak mengonsumsi produk hewani
  • Intoleransi laktosa
  • Memiliki kondisi kesehatan tertentu dan dokter menyarankan untuk konsumsi susu soya yang diformulasikan.

Jangan sampai Anda memberikan susu selain ASI pada bayi secara sembarangan. Pastikan sudah sesuai dengan saran dan petunjuk dari dokter. 

Susu Soya Vs Susu Sapi

Membahas soal kandungan nutrisi susu kedelai, sebenarnya ada banyak perbedaan jika dibandingkan dengan susu sapi. Perbedaan-perbedaan tersebut seperti:

  • Kandungan kalori pada susu kedelai yang sudah diperkaya hanya mengandung 100 kalori, sedangkan susu sapi segar mengandung 146 kalori.
  • Susu soya mengandung 4 gram lemak, sedangkan susu sapi mengandung lemak sebanyak 8 gram.
  • Kandungan protein dalam susu kedelai maupun susu sapi hampir sama. Susu sapi segar mengandung 8 gram protein, sedangkan susu kedelai mengandung 7 gram protein.
  • Susu kedelai mengandung 2 gram serat, sedangkan susu sapi mengandung 0 gram serat.

Selain itu, susu kedelai yang terbuat dari tumbuhan tidak mengandung vitamin B12. Vitamin ini hanya ada dalam makanan yang berasal dari hewan, termasuk susu sapi.

Begitu pula dengan kandungan kalsium pada susu kedelai juga lebih rendah dibandingkan dengan susu sapi.

Memberikan susu soya untuk bayi juga perlu ada aturannya. Susu soya mengandung zat alami bernama phytate yang dapat mengurangi kemampuan anak menyerap kalsium dan mineral. Sehingga anak perlu diberikan asupan makanan lain yang tinggi kalsium untuk memenuhi kebutuhan nutrisi yang diperlukan tubuhnya. 

Jika memang anak Anda harus diberikan susu kedelai, maka pastikan susu tersebut sudah difortifikasi atau ditambah nutrisi penting seperti kalsium, folat, vitamin A, D, dan vitamin B.

Saat Anda memberikan susu soya untuk bayi, maka pastikan untuk terus berkonsultasi dengan dokter spesialis anak dan ahli gizi untuk memantau tumbuh kembangnya tetap sesuai dengan usia anak.