Bebas Varises dengan Mudah dan Tampil Percaya dengan Suntik Varises

  • May 2, 2020

Bagi banyak orang, varises menjadi salah satu faktor yang mengurangi nilai estetika penampilan. Tidak heran, banyak orang mencari cara yang instan untuk mendapatkan kembali kepercayaan diri mereka agar terbebas dari varises. Salah satu prosedur medis yang dianggap paling ampuh adalah suntik varises.

Suntik varises atau yang dalam bahasa medisnya skleroterapi adalah suatu prosedur yang dilakukan dengan ablasi kimiawi atau menyuntikan bahan kimia tertentu atau pada pembuluh darah.

Zat kimia yang disebut sklerosan ini akan disuntikkan langsung ke pembuluh darah vena. Ia akan bekerja dengan merusak dinding vena yang melebar kemudian akan membentuk jaringan parut. Bentuk sklerosan ini dapat berupa cairan dan foam (busa) dengan persentase kesuksesan prosedur mencapai 90%. Maka dari itu, tidak heran bahwa suntik varises dianggap sebagai terapi yang efektif untuk menghilangkan varises, hanya saja varises yang efektif dihilangkan adalah varises kasus ringan, misal pada vena kecil di tungkai bawah atau kaki. Varises yang terjadi di vena besar tidak dapat diatasi secara maksimal dengan prosedur ini.

Suntik varises bertujuan memiliki tujuan untuk:

  • Ablasi varises
  • Memperbaiki estetika penampilan
  • Memperbaiki fungsi vena
  • Menghilangkan gejala dan memperbaiki kualitas hidup
  • Sebagai pencegahan dan tatalaksana komplikasi dari kelainan vena kronik

Walaupun begitu, suntik varises juga dapat menimbulkan komplikasi tertentu. Beberapa komplikasi yang telah diketahui, antara lain:

  • Kulit menebal setelah prosedur penyuntikan dilakukan.
  • Reaksi anafilaktik.
  • Adanya perubahan warna kulit.
  • Kemungkinan matinya jaringan kulit.
  • Adanya reaksi alergi lokal.
  • Adanya gangguan penglihatan.
  • Merasakan sakit kepala dan migrain.

Selain dengan suntikan varises, perubahan gaya hidup juga dapat membantu Anda untuk mengatasi varises. Beberapa hal yang perlu Anda lakukan:

  • Menghindari berdiri maupun duduk terlalu lama.
  • Menghindari duduk dengan menyilangkan kaki.
  • Meninggikan kaki ketika duduk atau tidur.
  • Lakukan olahraga yang dapat menguatkan otot dan memperlancar aliran darah.
  • Jaga pola makan, sehingga Anda mendapatkan berat badan yang ideal.
  • Hindari mengenakan pakaian yang terlalu ketat.
  • Hindari menggunakan alas kaki dengan hak tinggi untuk waktu yang lama.

Jangan Gunakan Antikoagulan Jika Anda Mengalami Kondisi Ini

  • January 23, 2020

Jika Anda penderita penyakit jantung, stroke akibat penyumbatan, emboli paru, atau tromobosis vena dalam, pasti jenis obat antikoagulan tidaklah asing di telinga Anda. Salah satu contohnya adalah warfarin. Saat memberikan antikoagulan, diperlukan beberapa pemeriksaan darah. Pemeriksaan ini bertujuan untuk mengetahui kondisi darah Anda sebelum memberikan obat pengencer darah ini.

Setelah mengetahui kondisi darah Anda, maka dokter akan menyesuaikan dosis pemberian antikoagulan Anda sehingga efek yang diharapkan sesuai dan tidak merugikan Anda. Namun, terdapat beberapa kondisi dimana antikoagulan bisa berbahaya bagi penggunanya jika mengalami kondisi berikut ini:

  1. Tindakan operasi

Saat Anda menggunakan antikoagulan dan Anda memerlukan tindakan operasi atau tindakan invasif lainnya, pastikan petugas Kesehatan di tempat tersebut mengetahui akan penggunaan obat antikoagulan Anda. Tindakan invasif termasuk pemeriksaan untuk menegakkan diagnosis seperti endoskopi dan sistoskopi. Tindakan-tindakan ini dapat membuat luka dalam prosesnya. Jika Anda menggunakan antikoagulan, maka pendarahan dari luka ini akan menghasilkan darah yang lebih banyak dari normalnya.

  • Ibu hamil

Antikoagulan seperti warfarin umumnya tidak diberikan pada ibu hamil karena dapat mengganggu bayi dalam kandungan. Kondisi ini, bayi bisa mengalami pendarahan atau kecacatan akibat penggunaan obat. Biasanya  jika memang diperlukan, dokter akan memberikan antikoagulan pada kehamilan trimester kedua, yaitu bulan ke 5 hingga ke 8 bulan kehamilan. Jika Anda sedang mengongumsi antikoagulan, sebaiknya gunakan kondom saat berhubungan dengan pasangan Anda untuk mencegah kehamilan.

  • Saat masa menyusui

Antikoagulan warfarin biasanya akan tetap dapat Anda gunakan saat menyusui bayi Anda. Heparin juga masih tergolong aman untuk ibu menyusui. Namun, jika Anda dalam penggunaan antikoagulan lain, Anda perlu beritahu dokter agar antikoagulan yang diberikan dapat disesuaikan dengan kondisi Anda.

  • Mengalami luka

Anda perlu menghindari terjadinya luka saat menggunakan antikoagulan. Luka yang dimaksud adalah luka fisik yang dapat menyebabkan keluarnya darah. Berhati-hati saat menyikat gigi, bercukur atau berkegiatan lainya. Luka kecil saja dapat membuat pendarahan yang lebih banyak dari biasanya saat Anda menggunakan antikoagulan.

  • Makanan dan minuman tertentu

Saat menggunakan antikoagulan, perhatikan menu makanan yang Anda konsumsi. Sayuran dan hati yang banyak mengandung vitamin K perlu dikontrol jumlahnya. Selain itu, konsumsi alkohol juga perlu dihindari.

Cara Ampuh Atasi ISK dengan Antibiotik Saluran Kemih

  • January 1, 2020

Antibiotik saluran kemih merupakan Langkah pengobatan utama ketika Anda positif mengidap infeksi saluran kemih (ISK). Cara pemberianya bisa melalui suntikan atau minum, tergantung kondisi dan posisi ISK itu sendiri. Namun apakah Anda tahu jika berulang kali terkena penyakit ini, Anda bisa-bisa harus mengonsumsi antibiotik ini hingga lebih dari 6 bulan?

Fakta ini bukan untuk menakut-nakuti, memang benar bagi wanita yang terserang bakteri penyebab infeksi saluran kemih lebih dari 3 kali dalam satu tahun, konsumsi antibiotik dengan dosis rendah dalam jangka waktu Panjang tidak terhindarkan.

Cara menghindari risikonya

Ketika Anda divonis positif ISK untuk pertama kalinya, jangan sekali-sekali menghentikan konsumsi antibiotik yang diresepkan oleh dokter. Biasanya, bagi wanita yang pertama kali menderita ISK, dokter hanya akan meresepkan antibiotik untuk 2-3 hari atau maksimal 14 hari (bagi penderita ISK berat). Jika Anda hanya mengalami ISK ringan, dokter biasanya akan meresepkan antibiotik, seperti fosfomycin, ceftriaxone, cephalexin, nitrofurantoin, maupun trimethropim/sulfamethoxazole.

Sementara antibiotik fluoroquinolone dan levofloxacin akan diberikan pada penderita ISK parah atau yang juga menderita infeksi ginjal. Ketika Anda divonis menderita ISK berat, dokter bisa saja meresepkan antibiotik suntik.Sedangkan pada ibu hamil yang terkena ISK, dokter akan meresepkan antibiotik yang cenderung tidak memengaruhi perkembangan janin. Misalnya, amoxicillin, erythromycin, maupun penisilin.

Saat proses penyembuhan dengan antibiotik ini, Anda mungkin akan merasa jenuh dan ingin menghentikan pengobatan. Apalagi, jika gejala ISK, seperti rasa sakit atau terbakar ketika buang air kecil, tidak Anda rasakan lagi. Jika konsumsi antibiotik memang harus dihentikan, biarkan dokter yang memutuskan hal itu setelah melakukan serangkaian pemeriksaan pada saluran kemih.

Pasalnya, menghentikan konsumsi antibiotik sebelum waktunya hanya akan membuat bakteri penyebab ISK bisa kembali berkembang sehingga menyebabkan ISK kambuhan. Semakin sering Anda terinfeksi bakteri penyebab ISK, semakin lama Anda harus mengonsumsi antibiotik. Jadi, lebih baik menuntaskannya sekarang daripada mengulang prosesnya dari awal.

Semua obat yang katanya alami pun, pasti memiliki efek sampingnya, tidak terkecuali antibiotik saluran kemih. Untuk antibiotik saluran kemih sendiri, efek samping yang ditimbulkan bisa berupa diare, mual atau muntah, sakit kepala, ruam, dan kerusakan pada otot tendon atau saraf.