Amankah Methotrexate Selama Kehamilan dan Panduan Penggunaannya

  • December 24, 2020

Rheumatoid arthritis (RA) merupakan penyakit autoimun kronis yang menyebabkan peradangan pada sendi, dan lebih cenderung menyerang wanita. Methotrexate adalah obat yang umum digunakan untuk meringankan kondisi tersebut. Namun penggunaannya dapat berbahaya bagi wanita hamil.

Apa yang terjadi jika wanita hamil menggunakan methotrexate?

Methotrexate (MTX) merupakan antagonis asam folat dan memiliki efek teratogenik atau menyebabkan perkembangan tidak normal. USA Food and Drug Administration (FDA) melarang penggunaan methotrexate selama kehamilan karena obat ini dapat menyebabkan cacat lahir fisik maupun mental, dan kematian janin. Kecacatan akan lebih parah jika pajanan terjadi pada trimester pertama kehamilan. 

Wanita yang menggunakan MTX (≤30 mg / minggu) setelah proses pembuahan (konsepsi) lebih cenderung mengalami cacat lahir mayor. Contoh cacat lahir yang disebabkan metotreksat antara lain:

  • Cacat tabung saraf yang mempengaruhi otak, tulang belakang, dan sumsum tulang belakang
  • Sumbing
  • Disostosis cleidocranial, yaitu kelainan pada gigi dan tulang selangka 
  • Hipertelorisme, atau dua bagian tubuh dengan jarak tidak normal. Misalnya jarak antara kedua mata lebih jauh daripada orang normal
  • Malformasi lain seperti telinga berbentuk tidak normal, hidung datar, dan rahang terlalu kecil
  • Posisi tangan yang tidak normal di pergelangan tangan
  • Kehilangan tulang di lengan dan kaki

Selain pada wanita hamil, penggunaan methotrexate juga sebaiknya dihindari oleh pasangan yang merencanakan kehamilan. Meskipun dikonsumsi oleh pria, efeknya tetap dapat terlihat pada kehamilan pasangannya. 

Methotrexate juga tidak boleh digunakan oleh ibu menyusui, karena anak dapat terdampak efek obat melalui ASI. Efek sampingnya meliputi masalah pencernaan, seperti muntah dan diare, serta kelainan darah. Anak yang memiliki tingkat sel darah putih rendah berisiko terkena infeksi. Sedangkan tingkat sel darah merah rendah dapat menyebabkan anemia.

Kapan waktu yang tepat menggunakan methotrexate? 

Efek methotrexate dapat bertahan dalam waktu yang lama dalam tubuh. Wanita atau pria dengan rheumatoid arthritis yang sedang menjalani program hamil berarti harus menghentikan pengunaan methotrexate 3 bulan sebelum masa pembuahan. 

Jika seorang wanita yang menggunakan methotrexate baru mengetahui bahwa dirinya hamil, penggunaan harus dihentikan dengan segera dan lakukan pemeriksaan lebih lanjut di rumah sakit.

Ketika Anda berada dalam kondisi di atas, diskusikanlah dengan dokter untuk mendapat alternatif obat methotrexate yang lebih aman dikonsumsi selama kehamilan. Obat-obatan ini termasuk:

  • Azathioprine 
  • Siklosporin
  • Hydroxychloroquine 
  • Sulfasalazine 
  • Kortikosteroid dosis rendah

Obat antiinflamasi nonsteroid (NSAID), seperti ibuprofen dan naproxen, yang dijual bebas juga aman digunakan selama trimester pertama dan kedua. Penggunaannya harus dihentikan ketika memasuki trimester ketiga karena NSAID dapat menyebabkan masalah serius pada jantung bayi.

Untuk kembali menggunakan methotrexate, pastikan bahwa Anda benar-benar sudah selesai dari fase menyusui atau konsultasikan dengan dokter kapan waktu penggunaan yang tepat. Namun jika Anda terpaksa menggunakan methotrexate pada fase menyusui, bicarakan dengan dokter mengenai cara lain untuk memberi makan buah hati Anda. 

Catatan

Methotrexate memiliki efek yang berbahaya pada kehamilan. Untuk menghindari kehamilan yang tidak terencana selagi penggunaan methotrexate, pasangan dapat melakukan upaya pencegahan dengan menggunakan alat kontrasepsi seperti kondom, pil KB, dan alat kontrasepsi dalam rahim (IUD).

Jika Anda memiliki pertanyaan seputar methotrexate dan kehamilan, contohnya seperti cara alami mengelola gejala RA selama kehamilan tanpa methotrexate, maka bisa ditanyakan secara langsung kepada dokter melalui aplikasi kesehatan SehatQ.

Download aplikasinya sekarang di App Store atau Google Play Store.

simethicone obat maag

Simethicone

  • December 21, 2020

Simethicone merupakan jenis obat yang dapat mengatasi rasa tidak nyaman dan nyeri karena banyaknya gas di dalam saluran pencernaan seperti perut kembung. Obat simethicone bekerja dengan menghancurkan gelembung gas pada usus. Merek-merek obat simethicone yang dijual di Indonesia adalah Neolanta dan Gastulen.

Kemasan Obat Simethicone

Obat simethicone termasuk obat antiflatulensi dan dapat diperoleh baik melalui resep dokter maupun secara bebas di toko obat. Meskipun demikian, Anda perlu menggunakan obat tersebut dengan hati-hati. Obat tersebut tersedia dalam kemasan tablet kunyah dan suspensi.

Dosis Obat Simethicone

Jika Anda ingin menggunakan obat simethicone, Anda perlu gunakan dosis sesuai yang dianjurkan melalui kemasan obat tersebut. Setiap orang memiliki dosis yang berbeda-beda. Anda bisa berkonsultasi dengan dokter sebelum menggunakan obat tersebut. Berikut adalah dosis obat simethicone berdasarkan kondisi yang dialami pasien:

  • Perut kembung

Jika pasien berusia di bawah 2 tahun, maka dosisnya sebanyak 20 mg yang digunakan 4 kali sehari. Jika pasien berusia di antara 2 hingga 12 tahun, maka dosisnya sebanyak 40 mg yang digunakan 4 kali sehari.

Jika pasien anak berusia lebih dari 12 tahun, maka dosisnya sebanyak 40 hingga 250 mg yang digunakan setelah makan dan pada malam hari sebelum tidur. Jika pasien merupakan orang dewasa, maka dosisnya sebanyak 100 hingga 250 mg yang digunakan 3 hingga 4 kali sehari.

  • Kolik pada bayi

Jika bayi mengalami kondisi tersebut, maka dosisnya sebanyak 20 hingga 40 mg ketika waktunya makan.

Efek Samping Obat Simethicone

Sama seperti obat lain, obat simethicone dapat menimbulkan efek samping berupa diare, mual, muntah, ruam, pusing, dan kesulitan bernafas. Jika kondisi pasien memburuk atau mengalami efek samping lain, pasien sebaiknya hubungi dokter supaya kondisinya dapat ditangani lebih lanjut.

Jika Anda mengalami efek samping karena menggunakan obat simethicone dan ingin bertemu dengan dokter, Anda sebaiknya jangan lupa beritahu dokter jika Anda pernah mengalami penyakit tertentu, khususnya jika Anda mengalami kondisi berikut:

  • Alergi.
  • Kehamilan.

Anda sebaiknya jangan mengkonsumsi obat simethicone jika Anda mengalami hipersensitivitas terhadap simethicone.

Pengaruh pada Tubuh Jika Dikonsumsi dengan Obat Lain

Sebagian obat dapat menimbulkan reaksi yang berbeda pada tubuh jika dikonsumsi secara bersamaan dengan obat simethicone. Ada baiknya jika Anda berkonsultasi dengan dokter terlebih dahulu apakah obat tersebut aman bagi tubuh Anda atau tidak. Dokter mungkin akan melakukan penyesuaian dengan mengurangi dosis obat tersebut atau menggantikannya dengan obat lain.

Contoh obat yang tidak boleh dikonsumsi secara bersamaan dengan obat simethicone adalah obat levothyroxine. Kedua obat tersebut dapat menurunkan penyerapan obat-obatan untuk tiroid.

Jika Kondisi Anda Memburuk

Jika kondisi Anda memburuk, Anda sebaiknya hubungi dokter. Jika Anda ingin bertemu dengan dokter, Anda sebaiknya mempersiapkan diri dengan beberapa hal sebagai berikut:

  • Daftar pertanyaan yang ingin Anda ajukan ke dokter.
  • Daftar gejala yang Anda alami.
  • Daftar riwayat medis (jika diperlukan).

Ketika Anda bertemu dengan dokter, dokter akan menanyakan kondisi Anda seperti:

  • Kapan gejala tersebut terjadi?
  • Berapa lama gejala tersebut terjadi?
  • Apakah Anda memiliki penyakit tertentu?

Setelah mengetahui kondisi Anda, dokter dapat melakukan diagnosis terhadap kondisi Anda dan menentukan pengobatan yang lebih cocok untuk mengatasi kondisi yang Anda alami.

Kesimpulan

Obat simethicone merupakan salah satu cara yang dapat dilakukan pasien untuk mengatasi perut kembung. Meskipun demikian, pasien perlu waspada terhadap penggunaannya karena dapat menimbulkan efek samping dan tidak dapat dikonsumsi dengan obat-obatan tertentu. Untuk informasi lebih lanjut tentang obat simethicone atau perut kembung, pasien bisa tanyakan persoalan tersebut ke dokter.

simvastatin

Obat Simvastatin, Kegunaan hingga Efek Sampingnya

  • December 15, 2020

Simvastatin merupakan obat yang manfaatnya adalah untuk menurunkan kolesterol dan lemak jahat di dalam tubuh. Dengan konsumsi obat ini, maka akan membantu meningkatkan kolesterol baik dalam darah.

Cara kerja obat ini adalah dengan menghambat sintesis kolesterol yang pada akhirnya akan menurunkan risiko terjadinya penyakit jantung aterosklerosis, mencegah stroke hingga risiko serangan jantung.

Selain konsumsi obat simvastatin ini, menurunkan kolesterol juga bisa dengan mengubah pola makan jadi lebih sehat dan mengubah gaya hidup. Sehingga obat bisa bekerja lebih maksimal. Tentu disertai pula dengan olahraga, menurunkan berat badan menjadi lebih ideal dan berhenti merokok.

Efek Samping Obat Simvastatin

Sama seperti obat-obatan lainnya, obat simvastatin ini juga berisiko menimbulkan efek samping setelah dikonsumsi pada sebagian orang. Adapun efek samping ringan dari obat ini adalah:

  • Terasa nyeri sendi, nyeri otot ringan
  • Ruam kulit ringan
  • Sakit kepala
  • Konstipasi, mengalami masalah pencernaan, mual ringan, hingga sakit perut
  • Mengalami insomnia atau masalah tidur
  • Mengalami gejala flu seperti bersin, hidung tersumbat, serta sakit tenggorokan

Selain itu, ada pula kemungkinan terjadinya reaksi alergi obat yang dipicu oleh obat simvastatin ini. Berikut beberapa tanda reaksi alergi yang dimaksud:

  • Kesulitan bernapas
  • Mengalami gatal-gatal
  • Terjadi pembengkakan di bibir, wajah, tenggorokan, dan atau lidah.

Ada juga efek yang cukup serius seperti:

  • Nyeri otot tanpa ada sebabnya, lemah, dan linu
  • Mengalami masalah dengan daya ingat, kebingungan
  • Sakit atau terasa panas ketika buang air kecil
  • Mengalami demam, urin berwarna gelap, serta kelelahan yang tidak biasa
  • Mengalami pembengkakan, berat badan meningkat, buang air kecil sedikit bahkan tidak ada sama sekali
  • Meningkatnya rasa haus, frekuensi buang air kecil juga meningkat, mulut kering, kelaparan, napas berbau buah, kulit kering, mengantuk, buramnya penglihatan, hingga berat badan menurun
  • Sakit perut bagian atas, gatal, mual, nafsu makan hilang, tinja berwarna lumpur, urin gelap,  serta kulit dan mata menguning.


Jika efek samping serius ini terjadi, maka segeralah hubungi dokter. Namun tidak semua orang akan mengalami berbagai efek samping yang disebutkan di atas. Atau ada pula efek samping yang tida terdaftar di atas. Konsultasikan pada dokter untuk mendapatkan informasi dengan lebih jelas.

Catatan Penting yang Perlu Diingat Terkait Obat Simvastatin

Interaksi dengan berbagai obat bisa saja muncul jika mengonsumsi obat secara bersamaan dengan obat lainnya. Berikut ini interaksi obat simvastatin yang akan muncul, seperti:

  • Apabila dikonsumsi bersamaan dengan antikoagulan, maka bisa meningkatkan risiko perdarahan
  • Apabila dikonsumsi dengan bosentan, rifampisin, dan efavirenz, akan menurunkan kadar serum
  • Bila dikonsumsi bersamaan dengan ezetimibe akan menyebabkan peningkatan hepatotoksisitas
  • Bila dikonsumsi bersamaan dengan colchicine, verapamil, amidarone, dan diltiazem akan meningkatkan risiko miopati dan rhabdomyolysis
  • Bisa dikonsumsi bersamaan dengan amlodipine dan asam fusidic, meningkatkan risiko myopathy

Cara Mengonsumsi Obat Simvastatin

Biasanya obat simvastatin ini dikonsumsi sekali sehari saja di malam hari. Dosis obat pun akan disesuaikan dengan kondisi medis, usia, respons terhadap pengobatan, hingga obat lain yang diminum.

Dosis maksimal obat ini hanya 40 mg per hari atau sesuai dengan petunjuk yang diberikan oleh dokter. Sama halnya dengan obat lain, jangan pernah menambah atau mengurangi dosis yang sudah ditetapkan oleh dokter. Alih-alih sembuh, justru bisa meningkatkan risiko efek samping yang serius.

Bebas Varises dengan Mudah dan Tampil Percaya dengan Suntik Varises

  • May 2, 2020

Bagi banyak orang, varises menjadi salah satu faktor yang mengurangi nilai estetika penampilan. Tidak heran, banyak orang mencari cara yang instan untuk mendapatkan kembali kepercayaan diri mereka agar terbebas dari varises. Salah satu prosedur medis yang dianggap paling ampuh adalah suntik varises.

Suntik varises atau yang dalam bahasa medisnya skleroterapi adalah suatu prosedur yang dilakukan dengan ablasi kimiawi atau menyuntikan bahan kimia tertentu atau pada pembuluh darah.

Zat kimia yang disebut sklerosan ini akan disuntikkan langsung ke pembuluh darah vena. Ia akan bekerja dengan merusak dinding vena yang melebar kemudian akan membentuk jaringan parut. Bentuk sklerosan ini dapat berupa cairan dan foam (busa) dengan persentase kesuksesan prosedur mencapai 90%. Maka dari itu, tidak heran bahwa suntik varises dianggap sebagai terapi yang efektif untuk menghilangkan varises, hanya saja varises yang efektif dihilangkan adalah varises kasus ringan, misal pada vena kecil di tungkai bawah atau kaki. Varises yang terjadi di vena besar tidak dapat diatasi secara maksimal dengan prosedur ini.

Suntik varises bertujuan memiliki tujuan untuk:

  • Ablasi varises
  • Memperbaiki estetika penampilan
  • Memperbaiki fungsi vena
  • Menghilangkan gejala dan memperbaiki kualitas hidup
  • Sebagai pencegahan dan tatalaksana komplikasi dari kelainan vena kronik

Walaupun begitu, suntik varises juga dapat menimbulkan komplikasi tertentu. Beberapa komplikasi yang telah diketahui, antara lain:

  • Kulit menebal setelah prosedur penyuntikan dilakukan.
  • Reaksi anafilaktik.
  • Adanya perubahan warna kulit.
  • Kemungkinan matinya jaringan kulit.
  • Adanya reaksi alergi lokal.
  • Adanya gangguan penglihatan.
  • Merasakan sakit kepala dan migrain.

Selain dengan suntikan varises, perubahan gaya hidup juga dapat membantu Anda untuk mengatasi varises. Beberapa hal yang perlu Anda lakukan:

  • Menghindari berdiri maupun duduk terlalu lama.
  • Menghindari duduk dengan menyilangkan kaki.
  • Meninggikan kaki ketika duduk atau tidur.
  • Lakukan olahraga yang dapat menguatkan otot dan memperlancar aliran darah.
  • Jaga pola makan, sehingga Anda mendapatkan berat badan yang ideal.
  • Hindari mengenakan pakaian yang terlalu ketat.
  • Hindari menggunakan alas kaki dengan hak tinggi untuk waktu yang lama.

Jangan Gunakan Antikoagulan Jika Anda Mengalami Kondisi Ini

  • January 23, 2020

Jika Anda penderita penyakit jantung, stroke akibat penyumbatan, emboli paru, atau tromobosis vena dalam, pasti jenis obat antikoagulan tidaklah asing di telinga Anda. Salah satu contohnya adalah warfarin. Saat memberikan antikoagulan, diperlukan beberapa pemeriksaan darah. Pemeriksaan ini bertujuan untuk mengetahui kondisi darah Anda sebelum memberikan obat pengencer darah ini.

Setelah mengetahui kondisi darah Anda, maka dokter akan menyesuaikan dosis pemberian antikoagulan Anda sehingga efek yang diharapkan sesuai dan tidak merugikan Anda. Namun, terdapat beberapa kondisi dimana antikoagulan bisa berbahaya bagi penggunanya jika mengalami kondisi berikut ini:

  1. Tindakan operasi

Saat Anda menggunakan antikoagulan dan Anda memerlukan tindakan operasi atau tindakan invasif lainnya, pastikan petugas Kesehatan di tempat tersebut mengetahui akan penggunaan obat antikoagulan Anda. Tindakan invasif termasuk pemeriksaan untuk menegakkan diagnosis seperti endoskopi dan sistoskopi. Tindakan-tindakan ini dapat membuat luka dalam prosesnya. Jika Anda menggunakan antikoagulan, maka pendarahan dari luka ini akan menghasilkan darah yang lebih banyak dari normalnya.

  • Ibu hamil

Antikoagulan seperti warfarin umumnya tidak diberikan pada ibu hamil karena dapat mengganggu bayi dalam kandungan. Kondisi ini, bayi bisa mengalami pendarahan atau kecacatan akibat penggunaan obat. Biasanya  jika memang diperlukan, dokter akan memberikan antikoagulan pada kehamilan trimester kedua, yaitu bulan ke 5 hingga ke 8 bulan kehamilan. Jika Anda sedang mengongumsi antikoagulan, sebaiknya gunakan kondom saat berhubungan dengan pasangan Anda untuk mencegah kehamilan.

  • Saat masa menyusui

Antikoagulan warfarin biasanya akan tetap dapat Anda gunakan saat menyusui bayi Anda. Heparin juga masih tergolong aman untuk ibu menyusui. Namun, jika Anda dalam penggunaan antikoagulan lain, Anda perlu beritahu dokter agar antikoagulan yang diberikan dapat disesuaikan dengan kondisi Anda.

  • Mengalami luka

Anda perlu menghindari terjadinya luka saat menggunakan antikoagulan. Luka yang dimaksud adalah luka fisik yang dapat menyebabkan keluarnya darah. Berhati-hati saat menyikat gigi, bercukur atau berkegiatan lainya. Luka kecil saja dapat membuat pendarahan yang lebih banyak dari biasanya saat Anda menggunakan antikoagulan.

  • Makanan dan minuman tertentu

Saat menggunakan antikoagulan, perhatikan menu makanan yang Anda konsumsi. Sayuran dan hati yang banyak mengandung vitamin K perlu dikontrol jumlahnya. Selain itu, konsumsi alkohol juga perlu dihindari.

Cara Ampuh Atasi ISK dengan Antibiotik Saluran Kemih

  • January 1, 2020

Antibiotik saluran kemih merupakan Langkah pengobatan utama ketika Anda positif mengidap infeksi saluran kemih (ISK). Cara pemberianya bisa melalui suntikan atau minum, tergantung kondisi dan posisi ISK itu sendiri. Namun apakah Anda tahu jika berulang kali terkena penyakit ini, Anda bisa-bisa harus mengonsumsi antibiotik ini hingga lebih dari 6 bulan?

Fakta ini bukan untuk menakut-nakuti, memang benar bagi wanita yang terserang bakteri penyebab infeksi saluran kemih lebih dari 3 kali dalam satu tahun, konsumsi antibiotik dengan dosis rendah dalam jangka waktu Panjang tidak terhindarkan.

Cara menghindari risikonya

Ketika Anda divonis positif ISK untuk pertama kalinya, jangan sekali-sekali menghentikan konsumsi antibiotik yang diresepkan oleh dokter. Biasanya, bagi wanita yang pertama kali menderita ISK, dokter hanya akan meresepkan antibiotik untuk 2-3 hari atau maksimal 14 hari (bagi penderita ISK berat). Jika Anda hanya mengalami ISK ringan, dokter biasanya akan meresepkan antibiotik, seperti fosfomycin, ceftriaxone, cephalexin, nitrofurantoin, maupun trimethropim/sulfamethoxazole.

Sementara antibiotik fluoroquinolone dan levofloxacin akan diberikan pada penderita ISK parah atau yang juga menderita infeksi ginjal. Ketika Anda divonis menderita ISK berat, dokter bisa saja meresepkan antibiotik suntik.Sedangkan pada ibu hamil yang terkena ISK, dokter akan meresepkan antibiotik yang cenderung tidak memengaruhi perkembangan janin. Misalnya, amoxicillin, erythromycin, maupun penisilin.

Saat proses penyembuhan dengan antibiotik ini, Anda mungkin akan merasa jenuh dan ingin menghentikan pengobatan. Apalagi, jika gejala ISK, seperti rasa sakit atau terbakar ketika buang air kecil, tidak Anda rasakan lagi. Jika konsumsi antibiotik memang harus dihentikan, biarkan dokter yang memutuskan hal itu setelah melakukan serangkaian pemeriksaan pada saluran kemih.

Pasalnya, menghentikan konsumsi antibiotik sebelum waktunya hanya akan membuat bakteri penyebab ISK bisa kembali berkembang sehingga menyebabkan ISK kambuhan. Semakin sering Anda terinfeksi bakteri penyebab ISK, semakin lama Anda harus mengonsumsi antibiotik. Jadi, lebih baik menuntaskannya sekarang daripada mengulang prosesnya dari awal.

Semua obat yang katanya alami pun, pasti memiliki efek sampingnya, tidak terkecuali antibiotik saluran kemih. Untuk antibiotik saluran kemih sendiri, efek samping yang ditimbulkan bisa berupa diare, mual atau muntah, sakit kepala, ruam, dan kerusakan pada otot tendon atau saraf.