Macam-Macam Penyakit yang Menyebabkan Ujung Jari Kesemutan

Macam-Macam Penyakit yang Menyebabkan Ujung Jari Kesemutan

  • November 10, 2020

Setiap orang pasti pernah mengalami kesemutan, termasuk di ujung jari. Kesemutan sebenarnya merupakan kondisi yang wajar. Akan tetapi, bila ujung jari kesemutan terjadi terus menerus, Anda perlu mewaspadai penyebabnya.

Beberapa penyakit bisa menimbulkan gejala berupa kesemutan. Penyakit-penyakit ini bisa saja berbahaya apabila tidak segera ditangani. 

Penyakit yang menyebabkan ujung jari kesemutan

Kesemutan bisa terjadi karena terjadi tekanan pada saraf Anda ketika Anda sedang tidur atau berada pada posisi tertentu dalam waktu yang cukup lama. Rasa kesemutan sementara dipercaya banyak orang terjadi karena kurangnya sirkulasi darah. Padahal, hal ini disebabkan oleh kompresi saraf.

Karena terjadi pada saraf, rasa kesemutan sementara biasanya akan hilang setelah tekanan pada saraf dilepaskan. Akan tetapi, kesemutan yang terjadi secara berulang bisa disebabkan oleh penyakit yang lebih krusial, seperti: 

  • Carpal Tunnel Syndrome

Penyakit yang satu ini menjadi penyakit yang paling umum menyebabkan ujung jari kesemutan. Kondisi ini akan menyebabkan adanya tekanan pada saraf median di area pergelangan tangan. 

Biasanya, jari-jari yang pertama kali terkena kesemutan akibat gejala carpal tunnel syndrome adalah ibu jari dan telunjuk. Sementara, kelingking tidak pernah turut terpengaruh. 

Bila kondisi ini cukup ringan, Anda mungkin tidak memerlukan pengobatan tertentu. Jika memerlukan pengobatan, Anda mungkin akan dipasangkan alat berupa belat tangan, suntikan steroid ke pergelangan tangan, dan operasi. 

  • Diabetes

Sebenarnya, diabetes tidak langsung membuat seseorang merasakan kesemutan. Akan tetapi, diabetes terkait dengan kondisi diabetik neuropati yang memicu seseorang merasakan kesemutan. 

Kondisi ini cukup umum terjadi. Sebagian besar penderita diabetes tipe 2 di atas usia 60 tahun ke atas mengalami kondisi ini. 

Resiko ini akan semakin meningkat bila Anda memiliki kebiasaan merokok, tidak mengontrol diabetes dengan baik, dan memiliki tekanan darah tinggi atau komplikasi lainnya dari penyakit diabetes, seperti gagal ginjal. 

  • Multiple sclerosis

Multiple sclerosis adalah penyakit yang menyerang otak dan sumsum tulang belakang. Kedua organ tubuh ini merupakan organ yang membentuk sistem saraf pusat. Kesemutan dan mati rasa merupakan salah satu gejala yang ditimbulkannya. 

Kondisi ini bisa terjadi saat sel T dalam sistem kekebalan secara keliru menyerang lapisan lemak pelindung mielin yang menutup otak dan sumsum tulang belakang. Karena kondisi ini terjadi akibat kekeliruan sistem kekebalan tubuh, multiple sclerosis dapat dikategorikan sebagia penyakit autoimun.

Menurut penelitian, beberapa orang yang menderita kondisi ini bisa pulih sepenuhnya, sementara sebagian yang lain tidak pernah bisa benar-benar pulih. Penyebab hal ini masih perlu diteliti lebih lanjut. 

  • Fibromyalgia

Fibromyalgia ditandai dengan nyeri muskuloskeletal yang meluas dengan menimbulkan gejala berupa kelelahan, perubahan suasana hati, gangguan ingatan, dan masalah tidur. Kondisi ini juga menjadi penyebab ujung jari kesemutan

Selain kesemutan, Anda akan merasakan nyeri atau rasa sakit. Rasa sakit ini bisa berlangsung sampai berbulan-bulan. 

Tidak hanya itu, penderita fibromyalgia juga dapat mengalami kesulitan atau kemunduran dalam hal kognitif yang mempengaruhi kemampuan mereka untuk fokus pada hal-hal yang berhubungan dengan mental. 

  • Penyakit Raynaud

Penyakit yang satu ini menyebabkan pembuluh darah yang sangat kecil di ujung jari-jari Anda menegang dan kejang, terutama ketika Anda sedang flu. Hal inilah yang membuat Anda bisa merasakan kesemutan pada ujung jari. 

Saat mengalami kondisi ini, jari-jari Anda akan mengalami perubahan warna menjadi putih dan dingin. Kemudian, warna jari akan berubah lagi menjadi kebiruan dan menjadi merah cerah saat sirkulasi terbuka kembali.

Hingga saat ini, 90 persen kasus penyakit Raynaud tidak diketahui dengan pasti penyebabnya. Namun, kondisi ini cukup jarang terjadi dan termasuk penyakit yang cukup langka.

Bila Anda merasakan ujung jari kesemutan yang tak terkendali, sebaiknya segera lakukan pemeriksaan untuk mengetahui penyebab yang mendasarinya. 

Cedera ACL Lebih dari Sekadar Kondisi Lutut Bengkak!

  • October 28, 2020

Laga Liga Inggris pekan kelima antara Everton FC versus Liverpool FC memakan korban. Bek andalan The Reds—julukan Liverpool—Virgil van Dijk mengalami cedera parah setelah diterjang kiper lawan pada menit-menit awal babak pertama. Dia tak dapat melanjutkan pertandingan karena cedera ACL. Beberapa waktu setelahnya, pemain asal Belanda itu mengunggah foto kondisi terkini dengan lutut bengkak.

Cedera ACL tergolong cedera parah. Bahkan, kondisi ini digadang-gadang sebagai mimpi buruk bagi para atlet, khususnya pemain sepak bola. Atlet yang mengalami cedera ACL setidaknya harus menepi untuk mendapat perawatan selama delapan bulan.

ACL atau Anterior Cruciate Ligament adalah bagian utama yang ada di lutut seorang manusia. ACL merupakan satu dari empat ligamen yang menghubungkan tulang tungkai bawah dengan tulang tungkai atas lutut dan menjaga kestabilan.

Fungsinya cukup vital, yakni menstabilkan gerakan tulang di sekitarnya. Cedera ACL terjadi ketika ligamen itu meregang secara berlebihan hingga robek. Jika jaringan ligamen tersebut mengalami kerusakan, baik robek maupun putus, maka pasien akan sulit berjalan dengan sempurna.

Ligamen tersebut bisa meregang hingga robek lantaran seseorang menjalani aktivitas olahraga dan juga aktivitas yang memberikan tekanan besar kepada lutut. Cedera ini biasanya terjadi ketika seseorang berhenti mendadak dan bergerak ke arah berlawanan, berputar arah dengan tumit tak ikut berputar, mendarat dengan posisi tidak sempurna ketika melompat atau ketika lutut mengalami benturan keras seperti dijegal dalam permainan sepak bola.

Ketika cedera terjadi, kemungkinan akan terdengar bunyi kecil yang diikuti dengan rasa nyeri serta diakhiri dengan lutut bengkak. Yang menjadikan ini sebagai mimpi buruk bagi altet adalah, cedera ACL biasanya juga menyebabkan cedera di jaringan lainnya.

Terjadinya lutut bengkak karena cedera ACL ini disebabkan karena adanya pendarahan di dalam lutut. Setelah itu, bengkak akan diikuti oleh rasa sakit yang sangat parah sehingga tubuh tidak bisa melanjutkan kegiatan.  Namun, terkadang tingkat rasa sakit yang dirasakan setiap orang berbeda-beda, tergantung pada seberapa parah kerusakan yang terjadi di ligamen lutut.

Lutut bengkak ini akan sembuh dengan sendirinya seiring dengan pertolongan pertama yang diberikan tim medis kepada penderita. Akan tetapi cedera ACL tidak hanya sekadar masalah lutut bengkak. Kondisi ini lebih dari itu. Atlet atau siapa pun yang mengalami kondisi ini juga beresiko besar mengalami osteoarthiritis atau peradangan sendi meskipun telah dilakukan operasi.

Bahkan setelah operasi pun penderita harus menjalani serangkaian perawatan, latihan, hingga terapi untuk memastikan kondisi lututnya sembuh dengan sempurna dan bisa menjalani aktivitas sehari-hari seperti sedia kala.

Selain atlet atau olahragawan, ada beberapa kelompok orang yang memiliki faktor risiko mengalami cedera ACL. Beberapa di antaranya adalah:

Mereka yang memiliki ligamen lemah. Faktor risiko ini dapat disebut pula sebagai ‘bawaan lahir’. Bahwa memang ada orang-orang yang terlahir dengan kondisi ligamen lemah. Hal ini menyebabkan tubuhnya lebih rentan mengalami cedera, terutama pada lutut.

Tidak melakukan pemanasan dengan benar. Pemanasan sebelum memulai aktivitas berat adalah suatu hal yang wajib dilakukan. Jika Anda tidak melakukan pemanasan dengan tepat, atau malah tidak pemanasan sama sekali, risiko Anda untuk mengalami cedera ACL jauh lebih tinggi.

Tidak dilengkapi dengan peralatan penunjang yang memadai. Penggunaan sepatu olahraga yang tepat juga memengaruhi bagaimana kualitas olahraga seseorang. Apabila Anda memilih sepatu yang salah, Anda lebih rentan mengalami cedera karena sepatu yang Anda kenakan tidak dapat mendukung pergerakan tubuh Anda dengan sempurna.

Dari penjelasan di atas diketahui bahwa lutut bengkak yang dialami Virgil van Dijk bukanlah inti dari apa yang dialaminya. Namun, jauh di balik itu semua dia harus berjuang untuk dapat mengembalikan ligamen anteriornya agar dapat kembali menendang bola. Yang pasti, kini, Jurgen Klopp sebagai pelatih Liverpool FC harus memutar otak lebih keras untuk mencari pengganti yang sepadan bek andalannya itu.

glaukoma kongenital primer

Glaukoma Kongenital Primer Bisa Sebabkan Kebutaan Dini pada Bayi

  • October 25, 2020

Berbeda dengan jenis glaukoma lain yang biasanya menjangkit usia lanjut, glaukoma kongenital primer terjadi pada bayi dan anak-anak di bawah 3 tahun. Penyakit mata ini tergolong langka dengan risiko 1 kejadian di setiap 10.000 bayi. Jika tidak tertangani dengan baik, glaukoma kongenital primer dapat mengakibatkan kebutaan permanen.  

Ciri-ciri bayi dengan glaukoma kongenital primer

Glaukoma kongenital primer merupakan penyakit bawaan dan kebanyakan baru terdeteksi saat bayi berusia 3-6 bulan. Tekanan cairan di mata bayi menyebabkan kerusakan saraf optik. Risiko paling parahnya yaitu terjadinya kebutaan yang bersifat irreversible atau tidak dapat kembali. Akan tetapi, sebanyak 80-90% bayi terbukti tidak akan mengalami gangguan penglihatan jika mampu tertangani sejak awal. Berikut ini merupakan ciri-ciri glaukoma kongenital primer secara umum: 

  • Saat kelopak mata menutup, bayi seakan sedang melindungi matanya
  • Terlihat sensitif saat terkena cahaya
  • Sering menangis mengeluarkan banyak air mata

Ciri-ciri seperti berikut ini juga bisa terjadi, meskipun tidak umum tergantung pada tingkat keparahan penyakit, diantaranya:

  • Kornea terlihat keruh atau berembun
  • Salah satu atau kedua mata lebih besar dari biasanya
  • Mata merah

Kornea berembun mengakibatkan penglihatan bayi buram. Hal ini terjadi karena hilangnya transparansi kornea sehingga terjadi kerusakan jaringan. Mata bayi juga membesar karena cairan dalam mata yang meningkat.  

Pengobatan dan perawatan

Pengobatan bisa dilakukan dengan cara terapi medis seperti penggunaan tetes mata dan obat-obatan lainnya. Hal tersebut mampu memperlambat kerusakan mata, akan tetapi pembedahan menjadi pilihan utama agar tekanan bisa berkurang secara permanen.  

Jenis pembedahan tergantung dengan kondisi kornea bayi, beberapa diantaranya yaitu goniotomy dan trabeculectomy. Ganiotomy dilakukan jika kornea transparan, sedangkan trabeculectomy dilakukan jika kornea buram. Keduanya sama-sama bertujuan untuk memberikan saluran cairan mata sehingga mampu berfungsi dengan baik. Tindakan operasi dapat dilakukan lebih dari satu kali sampai tekanan mata turun.

Berdasarkan penelitian British Journal of Ophthalmology, tingkat keberhasilan trabeculectomy ternyata lebih tinggi dibandingkan goniotomy pada pasien congenital glaucoma tingkat ringan, sedang, maupun parah.

Dokter akan memberikan sayatan kecil pada bilik mata bagian depan untuk memperlancar cairan mata keluar. Setelah 2-3 bulan dilakukan trabeculectomy, pasien perlu diberikan obat-obatan pendukung serta tetap rutin melakukan kontrol ke dokter. Biasanya tindakan ini dilakukan jika pengobatan topikal dan laser mata tidak memberikan hasil yang diinginkan.

Komplikasi yang ditimbulkan

Tekanan yang tinggi pada mata jika tidak diobati atau pengobatn tertunda akan mengakibatkan komplikasi berat dan gangguan penglihatan signifikan bagi bayi. Berikut ini merupakan komplikasi penyakit yang mungkin terjadi:

  • Tekanan mata tidak berkurang sesuai yang diharapkan
  • Tekanan mata berkurang terlalu banyak
  • Amblyopia atau mata malas
  • Ablasi retina atau jaringan retina terpisah dari posisi normal
  • Astigmatisme
  • Dislokasi lensa

Peningkatan tekanan cairan mata mungkin saja kembali terjadi sewaktu-waktu sehingga perlu dilakukan pengecekan dokter mata secara berkala selama seumur hidup.

Selain itu, komplikasi juga bisa timbul setelah dilakukan tindakan operasi trabeculectomy, beberapa komplikasi tersebut antara lain:

  • Infeksi mata
  • Kelopak mata turun
  • Mata bengkak
  • Terbentuknya jaringan parut
  • Pendarahan mata
  • Penurunan penglihatan

Meskipun tidak bisa dipastikan, namun penglihatan biasanya kembali normal dan jernih dalam waktu 2 sampai 12 minggu setelah operasi. Apabila timbul masalah lain atau tidak kunjung pulih setelah jangka waktu yang ditentukan sebaiknya segera hubungi dokter.

Bidai Tulang Kering, Kondisi yang Sering Menyerang Atlet

  • October 5, 2020

Bidai tulang kering, atau dikenal dengan istilah “shin splints” mengacu pada rasa sakit di sepanjang tulang kering (tibia), yaitu tulang besar di bagian depan kaki bagian bawah. Dalam dunia medis, kondisi ini bernama “medial tibial stress syndrome”, dan sering terjadi pada atlet yang baru-baru ini mengubah atau meningkatkan rutinitas berlatih. Peningkatan aktivitas tersebut membuat otot, tendon, dan jaringan tulang bekerja dengan lebih keras. Kebanyakan kasus bidai tulang kering dapat diatasi hanya dengan cukup istirahat, kompres es, atau perawatan diri lain. Menggunakan alas kaki yang layak serta memodifikasi rutinitas latihan Anda dapat membantu mencegah bidai tulang kering terjadi kembali di kemudian hari.

Penyebab dan faktor risiko

Rasa sakit atau nyeri yang dihubungkan dengan kondisi bidai tulang kering disebabkan karena jumlah teaga berlebih pada tulang kering dan jaringan yang menghubungkan tulang kering dengan otot di sekitarnya. Tenaga berlebih tersebut menyebabkan otot membengkak dan meningkatkan tekanan terhadap tulang, menyebabkan rasa sakit dan peradangan. Bidai tulang kering juga dapat menyebabkan reaksi stres terhadap retak tulang. Hentakan yang konstan dapat menyebabkan retakan kecil pada tulang kaki. Tubuh dapat memperbaiki retakan tersebut setelah beberapa waktu. Akan tetapi apabila tubuh tidak mendapatkan cukup istirahat, retakan kecil dapat menyebabkan fraktur lengkap atau fraktur stres.

Berbagai aktivitas dan sifat fisik dapat meningkatkan risiko Anda menderita bidai tulang kering. Faktor risiko tersebut termasuk ketidaknormalan anatomi (seperti sindrom kaki datar), kelemahan otot pada paha dan pantat, kurangnya fleksibilitas, teknik berlatih yang tidak tepat, berlari menuruni bukit, berlari di permukaan yang miring atau medan tidak rata, berlari di permukaan yang keras seperti beton, memakai sepatu yang tidak layak pakai, dan berpartisipasi dalam olahraga yang melibatkan aktivitas berhenti dan mulai berlari dengan cepat. Bidai tulang kering juga dapat terjadi ketika otot dan tendon kaki lelah. Wanita, orang-orang dengan kaki datar, atlet, rekrutan militer, dan penari semuanya memiliki risiko lebih besar menderita bidai tulang kering.

Gejala, diagnosa, dan perawatan

Orang-orang yang menderita bidai tulang kering akan mengalami beberapa gejala berikut ini, seperti nyeri tumpul di bagian depan kaki bagian bawah, rasa sakit yang berkembang saat latihan, nyeri di kedua sisi tulang kering, nyeri otot, nyeri di sepanjang tungkai bawah bagian dalam, pembengkakan di tungkai bawah, serta mati rasa dan kelemahan kaki. Kunjungi dokter apabila bidai tulang kering Anda tidak memberikan respon terhadap metode perawatan yang diberikan, atau Anda menderita gejala seperti nyeri parah di tulang kering setelah terjatuh atau kecelakaan, tulang kering yang terasa panas, tulang kering yang bengkak, dan rasa nyeri pada tulang kering saat Anda beristirahat.

Dokter biasanya dapat mendiagnosa bidai tulang kering saat pemeriksaan fisik. Mereka akan bertanya seputar jenis aktivitas fisik yang Anda lakukan dan seberapa sering/intens Anda dalam melakukan aktivitas tersebut. Dokter juga akan meresepkan tes diagnosa seperti pemindaian pencitraan dan sinar-X apabila mereka mencurigai Anda menderita retak tulang atau kondisi lain selain bidai tulang kering.

Bidai tulang kering umumnya membutuhkan istirahat dari aktivitas fisik tertentu. Rasa tidak nyaman biasanya akan hilang setelah beberapa jam atau beberapa hari dengan beristirahat dan membatasi aktivitas. Biasanya, Anda akan diminta beristirahat selama dua minggu. Dalam waktu tersebut, Anda bisa melakukan olahraga yang tidak menyebabkan kerusakan tambahan pada kaki, seperti berjalan atau berenang.

Hati-Hati! Gejala Ini Mungkin Tanda Sembelit Pada Bayi

  • August 14, 2020

Banyak orang tua melakukan pemantauan rutin pada bayi, khususnya saat bayi baru saja dilahirkan. Saat bayi sakit atau merasakan ketidaknyamanan, Anda perlu mengenali tanda-tandanya, termasuk tanda kondisi sembelit pada bayi.

Pada dasarnya, wajar bagi bayi untuk tidak buang air besar selama berhari-hari. Seringkali, semua nutrisi dari ASI diserap oleh tubuh bayi, sehingga bayi tidak perlu buang air besar. Akan tetapi, Anda harus bisa mendeteksi apabila hal tersebut dipicu oleh penyakit sembelit.

Tanda-tanda sembelit pada bayi

Sembelit pada bayi cukup jarang terjadi. Bayi yang mengonsumsi ASI secara rutin memiliki resiko lebih rendah untuk mengalami sembelit. Sembelit lebih mungkin terjadi pada bayi yang mengonsumsi produk susu bayi.

Biasanya, tanda-tanda bayi mengalami sembelit antara lain:

  • Jarang buang air besar

Jarang buang air besar tentunya menjadi tanda utama ketika bayi mengalami sembelit. Namun, Anda juga harus memperhatikan intensitas buang air besar dengan konsistensinya.

Jarang buang air besar tidak selalu berarti bayi mengalami sembelit. Setelah berhari-hari, apabila bayi mengeluarkan tinja yang keras, Anda perlu mewaspadai kemungkinan bayi sembelit.

  • Berdarah saat buang air besar

Saat sembelit, bayi mengalami kesulitan buang air besar. Mereka akan mengeluarkan tenaga lebih besar untuk buang air besar, memicu munculnya darah.

Apabila Anda melihat adanya bercak darah pada tinja bayi, kemungkinan besar bayi sedang berusaha keras untuk buang air besar. Darah tersebut muncul dari luka di sekitar dinding anus akibat tinja yang keras.

  • Menolak makan

Tanda lain dari sembelit pada bayi adalah menurunnya nafsu makan bayi. Bayi akan lebih mudah merasa kenyang saat sembelit, sehingga lebih sering menolak untuk makan. Selain itu, penolakan juga dilakukan karena bayi merasakan ketidaknyamanan di area perut.

Cara mencegah sembelit pada bayi

Sembelit bukanlah kondisi yang berbahaya, namun dapat menganggu keseharian bayi Anda. Oleh sebab itu, Anda perlu melakukan berbagai upaya pencegahan agar bayi terhindar dari kemungkinan sembelit. Pencegahan sembelit pada bayi bisa Anda lakukan dengan:

  • Menjaga kualitas ASI

Di tengah masa menyusui, penting bagi Anda untuk menjaga kualitas ASI Anda. Kualitas ASI yang membaik akan memberikan nutrisi yang baik pula bagi bayi. Cara mudah untuk menjaga kualitas ASI adalah dengan mengontrol pola makan atau melakukan diet sehat.

Jika Anda memberikan produk susu pada bayi, sebaiknya imbangi dengan pemberian ASI yang lebih banyak. Terkadang, kandungan dalam produk susu bisa memicu bayi terkena sembelit.

  • Memastikan bayi terhidrasi

Sama seperti orang dewasa, bayi membutuhkan hidrasi yang cukup agar bisa buang air besar dengan lancar. Sebagai orang tua, Anda perlu memastikan bayi tetap terhidrasi dengan memberi cairan yang cukup.

Untuk bayi di atas 6 bulan, Anda boleh memberikan jus buah, khususnya buah pir, untuk membantu mempercepat proses kontraksi usus besar pada bayi. Pastikan jus tidak terlalu manis dengan mencampurkannya dengan air mineral.

  • Mengonsumsi makanan berserat tinggi

Makanan yang Anda konsumsi akan menentukan kualitas ASI yang dikonsumsi bayi. Oleh sebab itu, Anda sebaiknya mencoba untuk mengonsumsi makanan berserat tinggi, seperti brokoli, apel tanpa kulit, pir, dan buah persik.

Anda juga bisa memberikan makanan tersebut langsung pada bayi apabila bayi Anda sudah cukup besar untuk mengonsumsi makanan padat.

Sebagai orang tua, Anda harus memperhatikan kondisi bayi setiap saat. Sebaiknya, lakukan upaya pencegahan untuk menghindari sembelit pada bayi.

Tips Atasi Morning Sickness Agar Tak Semakin Parah

  • August 6, 2020

Morning sickness atau dikenal juga dengan mual dan muntah saat hamil adalah gejala yang paling sering dialami oleh ibu hamil. Bahkan, gejala ini bisa terjadi hingga beberapa kali dan menyebabkan ketidaknyamanan sepanjang hari. Biasanya, ibu hamil akan mengalami morning sickness saat memasuki usia kehamilan 6 minggu dan mulai berhenti saat usia kehamilan 12 minggu. Sebenarnya, gejala ini tidak berbahaya untuk janin, akan tetapi morning sickness yang berlebihan atau hiperemesis gravidarum akan membuat ibu mengalami dehidrasi dan malnutrisi.

morning sickness

Apa sih penyebab morning sickness?

Umumnya, penyebab morning sickness pada ibu hamil bisa bervariasi. Namun, penyebab yang paling sering terjadi adalah meningkatnya kadar hormon tertentu selama beberapa minggu pertama kehamilan. Selain itu, rendahnya kadar gula darah juga dapat menyebabkan mual dan muntah pada ibu hamil. Faktor lainnya yang sering memicu morning sickness adalah sebagai berikut.

  • Memiliki bayi kembar.
  • Tubuh terlalu lelah.
  • Stres dan depresi.
  • Sering mual dan muntah pada kehamilan sebelumnya.
  • Memiliki riwayat keluarga yang hiperemesis gravidarum
  • Mabuk perjalanan, migrain, bau atau rasa tertentu, atau penggunaan pil KB sebelum hamil.

Morning sickness tidak hanya terjadi di pagi hari, tetapi bisa sepanjang hari bahkan ketika Anda mau tidur di malam hari. Oleh sebab itu, gejala ini perlu diatasi apalagi sampai membuat Anda tidak nyaman seharian, tubuh melemah, dan tak bisa tidur.

Bagaimana cara mengatasi morning sickness ini?

Perlu dilakukan beberapa langkah untuk mengatasi mual dan muntah yang berlebihan selama hamil. Terlebih lagi, makanan yang Anda konsumsi tidak dapat diserap oleh tubuh karena dimuntahkan kembali. Nah, berikut tips untuk mengatasi morning sickness agar tak semakin parah.

  • Istirahat yang cukup.
  • Hindari makanan dengan aroma menyengat yang dapat merangsang mual Anda.
  • Isi perut begitu Anda bangun tidur dengan makanan sederhana, seperti roti panggang atau biskuit. Jangan biarkan perut Anda kosong di pagi hari.
  • Konsumsi makanan tinggi karbohidrat dan rendah lemak, seperti nasi, roti, dan pasta.
  • Beberapa ibu hamil ada yang mual saat mencoba makan makanan yang panas. Jadi, hindari dulu makanan yang panas jika membuat Anda mual atau muntah.
  • Penuhi kebutuhan cairan dengan minum banyak air putih.
  • Atasi mual dengan konsumsi makanan yang mengandung jahe. Bila perlu, konsultasikan dengan dokter atau apoteker sebelum Anda mengonsumsi suplemen jahe selama hamil.
  • Akupresur, yaitu pemberian tekanan pada bagian tubuh tertentu untuk membantu meringankan gejala. Biasanya, menggunakan gelang khusus di lengan atau pita. Meskipun penelitiannya masih kurang, tetapi tidak ada salahnya Anda coba.

Apakah morning sickness bisa diatasi dengan obat-obatan?

Bisa. Apabila dengan beberapa tips di atas tidak juga ampuh mengatasi morning sickness Anda, maka bisa beralih dengan obat-obatan. Umumnya, obat-obatan yang digunakan adalah sebagai berikut.

  • Vitamin B-6 dan doxylamine.

Kombinasi obat ini banyak dijual di pasaran sebagai Unisom SleepTabs. American College of Obstetricians dan Gynaecologists telah merekomendasikan obat ini untuk meredakan mual di pagi hari selama trimester pertama. Kombinasi tersebut juga telah terbukti secara ilmiah efektif mengurangi mual dan muntah hingga 70 persen dari kasus. Hanya saja, Anda akan merasakan beberapa efek samping, seperti mengantuk, mulut kering, sakit kepala, gugup, dan sakit perut.

  • Diclegis.

Obat ini juga telah disetujui oleh FDA untuk digunakan pada ibu hamil. Uji klinis yang dilakukan menunjukkan bahwa Diclegis dapat meredakan mual pada 44 persen ibu hamil yang suka mual di pagi hari.

Selain kedua obat tersebut, ada beberapa obat lainnya yang dapat digunakan untuk meredakan rasa mual dan muntah yang berlebihan, yaitu antihistamin, phenothiazine, metoclopramide (Reglan), dan antasida. Konsultasikan dengan dokter atau apoteker sebelum mengonsumsi obat-obatan, agar dosis obat sesuai dengan yang dibutuhkan oleh tubuh Anda. Jika morning sickness terus berlanjut dan tak kunjung reda, segera hubungi dokter untuk mendapat penanganan medis lebih lanjut.

Ragam Larangan Makanan untuk Penderita Pendarahan Lambung

  • August 5, 2020
ragama larangan makanan untuk penderita pendarahan lambung

Sistem pencernaan manusia termasuk kompleks. Ada begitu banyak organ, senyawa, dan lain sebagainya yang mendukung kerja sistem pencernaan manusia. Makanan dan minuman memiliki peran vital dalam situasi ini. Salah-salah, apa yang kita konsumsi bisa menyebabkan masalah pada sistem pencernaan, termasuk salah satunya adalah pendarahan lambung.

Kendati tidak berhubungan secara langsung, tetapi pola konsumsi memiliki andil dalam kondisi pendarahan lambung. Sebagai gambaran saja, makanan yang tidak cocok bisa memicu tukak lambung. Sementara tukak lambung adalah salah satu faktor terbesar yang memicu pendarahan lambung. 

Perlu kiranya diketahui bahwa pendarahan pada lambung bukan termasuk jenis penyakit. Kondisi ini merupakan gejala atau komplikasi dari gangguan atau penyakit lain. Oleh karenanya, penting kiranya untuk memiliki informasi terkait apa-apa saja yang boleh dan tidak boleh dikonsumsi oleh penderita atau untuk mencegah terjadinya pendarahan lambung.

  • Makanan yang Tinggi Kandungan Gas

Makanan yang mengandung gas merupakan musuh terbesar bagi mereka yang memiliki gangguan pada lambungnya. Makanan jenis ini menyebabkan penumpukan gas dalam lambung, membuat perut mudah kembung, dan menimbulkan rasa begah. Beberapa jenis makanan yang disinyalir tinggi gas adalah sawi, kol, pisang ambon, kedondong, nangka, dan buah-buahan yang melalui proses pengeringan.

  • Minuman Bersoda

Minuman bersoda kedudukannya sama seperti makanan tinggi kandungan gas. Mengonsumsinya juga akan membuat produksi gas dalam lambung menjadi berlebih. Tingginya kandungan gas di dalam lambung menjadi faktor yang kerap membuat sistem pencernaan seseorang terganggu.

  • Pemicu Asam Lambung

Orang yang menderita pendarahan lambung harus berhati-hati dengan segala hal yang dapat memicu asam lambung. Kafein dalam kopi, minuman beralkohol dengan kadar 5 hingga 20 persen, anggur putih, sari buah sitrus, dan aneka buah yang sifatnya asam, seperti jeruk nipis berpotensi menyebabkan peradangan di lambung yang pada akhirnya bisa membuat pendarahan lambung pula.

  • Makanan yang Sulit Dicerna

Makanan yang sulit dicerna akan membuat lambung harus bekerja ekstra dan berakibat pada produksi gas berlebih. Kondisi ini bisa membuat tukak lambung semakin parah. Jenis makanan yang termasuk dalam kategori ini adalah keju, kue tar, dan makanan berlemak seperti gorengan atau makanan bersantan.

  • Makanan Perusak Dinding Lambung

Hati-hati dengan makanan pedas jika tak ingin mengalami pendarahan lambung. Pasalnya, makanan pedas memiliki sifat merusak dinding lambung. Kondisi ini membuat tukak lambung alami semakin buruk. Selain makanan pedas, jenis makanan yang memiliki sifat merusak dinding lambung adalah cuka, merica, dan bumbu yang sifatnya asam.

Meski banyak dari makanan atau minuman yang masuk ke dalam daftar “berbahaya”, bukan berarti penderita pendarahan lambung tak bisa mengonsumsinya sama sekali. Mereka masih boleh memakan atau meminumnya, asalkan dengan jumlah yang aman.

Adapun makanan yang justru baik untuk kesehatan pencernaan para penderita gangguan lambung adalah segala hal yang terbuat dari gandum atau biji-bijian. Ini lantaran bahan itu mengandung serat baik pada tubuh dan dapat ditolerir kandungannya untuk dicerna lebih dalam pada lambung.

Selain itu makanan yang kaya akan protein juga dinilai baik untuk kesehatan lambung. Lebih lanjut, jika kondisi lambung Anda tak sesehat yang lain, Anda harus memperhatikan banyak hal, mulai dari makan tepat waktu, konsumsi obat yang rutin, dan tidak makan dalam jumlah yang berlebihan. 

Semua itu bertujuan agar kondisi lambung Anda tetap baik-baik saja dan tidak memicu kondisi-kondisi lain yang berbahaya, termasuk pendarahan lambung.

Fakta-Fakta Terkait Operasi Spinal Fusion

  • July 23, 2020

Tulang belakang adalah penunjang kehidupan seorang manusia. Keberadaan, dengan segala fungsinya, memungkinkan manusia, juga makhluk vertebrata lain menjalankan aktivitas sehari-hari. Namun, ada beberapa kondisi yang menyebabkan tulang belakang kehilangan fungsinya. Jika sudah demikian, operasi kadang jadi tindakan yang harus diambil dokter. Operasi itu disebut spinal fusion.

Lebih detail, spinal fusion adalah tindakan yang dilakukan dengan menyambung beberapa ruas tulang belakang seseorang. Fungsinya mungkin seperti pen pada prosedur penyembuhan patah tulang, yakni mencegah terjadinya gerakan pada tulang yang disasar.

“Tulang tambahan” yang digunakan untuk mengisi ruang kosong di tulang belakang itu memang mengurangi kelenturan tulang belakang, tetapi spinal fusion ampuh mengatasi gangguan pada tulang belakang seseorang.

Selain sekelumit fakta mengenai spinal fusion di atas, berikut ini adalah fakta-fakta lain mengenai prosedur operasi ini:

  1. Operasi Spinal Fusion Tak Butuh Sayatan Lebar

Saat ini, metode spinal fusion tak lagi seperti sepuluh atau dua puluh tahun yang lalu. Kini, spinal fusion tak lagi jadi sesuatu yang harus ditakutkan. Dahulu, spinal fusion melibatkan sayatan besar di punggung untuk mengekspos tulang belakang, kemudian memotong, dan menarik otot-otot tulang belakang yang tebal.

Dengan adanya perkembangan, ahli bedah kini hanya memerlukan sayatan kecil (1 hingga 2 inci) dan melakukan efisiensi dengan tidak banyak interaksi dengan organ lain unruk mencapai tulang belakang. Mikroskop memungkinkan dokter untuk melihat daerah tersebut lebih jelas dan membantu pekerjaannya menjadi lebih mudah.

Spinal fusion saat ini membuat pasien tak kehilangan banyak darah, rasa sakit pascaoperasi yang minim, risiko infeksi yang lebih rendah, rawat inap yang lebih pendek, dan pemulihan yang lebih cepat. Jika dahulu setidaknya butuh satu minggu perawatan sebelum pasien diperbolehkan pulang, kini cukup satu hari saja.

  • Jaminan Pasien Pulih dengan Sempurna

Mungkin banyak dari pasien yang khawatir mereka tak dapat kembali menjalankan aktivitas seperti sediakala setelah menjalani spinal fusion. Namun, faktanya berkata lain. Pada tahap dan kondisi tertentu, mereka yang menjalani spinal fusion tetap dapat “hidup normal” dengan segala aktivitasnya.

Kondisi itu adalah untuk spinal fusion yang hanya melibatkan satu atau dua level (setiap vertebra mewakili level tulang belakang), yang terdiri dari sekitar 80 persen dari semua spinal fusion yang dilakukan.

  • Spinal Fusion Bukan “Jalan Pertama”

Para penderita gangguan tulang belakang sebenarnya tak selalu harus melakukan operasi spinal fusion ketika pertama kali mendatangi fasilitas kesehatan. Spinal fusion biasanya menjadi upaya kesekian setelah terapi fisik, suntikan tulang belakang, dan/atau terapi obat tak kunjung berbuah hasil.

Di sini, kecermatan dan kompetensi dokter amat dibutuhkan. Pasalnya, bagaimana dia membaca kondisi pasien punya andil yang besar bagi besar dan kecilnya kemungkinan kesembuhan pasien.

  • Biar Bagaimanapun, Spinal Fusion Adalah Upaya Terbaik

Sudah banyak penelitian yang mengonfirmasi bahwa pasien yang mendapat tindakan spinal fusion mendapatkan hasil yang baik. Banyak dari mereka yang tak lagi mengalami keluhan di tulang belakangnya ketimbang mereka yang dirawat secara non-bedah.

Fusion juga terbukti sebagai pengobatan yang sangat efektif untuk ketidakstabilan atau cacat tulang belakang. Akan tetapi, tindakan ini harus benar-benar ditangani oleh ahli bedah tulang belakang yang berkualifikasi yang dapat menentukan perawatan terbaik berdasarkan kondisi spesifik pasien.

  • Sayangnya, Tidak Semua Keluhan Tulang Belakang Mampu Diakomodir Spinal Fusion

Seperti yang telah disinggung sebelumnya, spinal fusion mungkin dapat memberikan hasil terbaik kepada pasien yang mengalami keluhan tulang belakang, seperti kelainan tulang belakang, patah tulang belakang, atau kondisi-kondisi lain terkait posisi dan konstruksi tulang belakang.

Namun, untuk masalah tulang belakang lantaran artritis, penyembuhannya tak semudah itu. Pasalnya, meski telah dilakukan spinal fusion, kondisi itu membuat masalah lebih kompleks di tulang belakang seseorang.

Spinal fusion tidak bisa mengubah perkembangan alami radang sendi di daerah lain di tulang belakang, meski faktanya tindakan medis ini dapat mengatasi pembedahan dengan area spesifik dan mengurangi gejala secara efektif.

***

Itulah beberapa fakta terkait tindakan operasi spinal fusion untuk mengatasi beberapa masalah pada tulang belakang seseorang. Kendati dinilai ampuh, spinal fusion tetap memiliki cela. Oleh karenanya, konsultasi dan diagnosis oleh tenaga medis kompeten menjadi pedoman penting sebelum seseorang menjalani tindakan ini.

Bahaya Vertigo Bisa Picu Stroke? Simak Faktanya Berikut!

  • July 18, 2020

Sensasi seperti ruangan berputar-putar adalah gejala umum vertigo yang seringkali dikeluhkan. Rasa sakit kepala yang begitu berat ini serupa dengan pengalaman kecil Anda setelah memutarkan badan sekencang-kencangnya kemudian berhenti secara mendadak. Bedanya, gejala vertigo tersebut tidak dapat direncanakan, melainkan datang secara tiba-tiba.

Orang awam mungkin akan menggambarkan vertigo seperti pusing, kliyengan, dan tubuh yang tidak seimbang, karena sensasi ruangan di sekitarnya berputar. Kondisi ini dipicu oleh gangguan pada pusat keseimbangan tubuh yang terletak pada telinga bagian dalam atau batang otak dan otak kecil.

Setidaknya tercatat sekitar 20-30% dari keseluruhan populasi mengalami vertigo. Meskipun kondisi ini seringkali dialami, vertigo tidak boleh dianggap remeh begitu saja. Perlu dicatat, vertigo bukanlah sebuah penyakit, melainkan gejala.

Seberapa tinggi risiko bahaya vertigo yang mungkin dapat muncul?

Bahaya vertigo tidak hanya berhubungan dengan penyakit yang memicu timbulnya gejala vertigo tersebut, namun juga gejala yang menyertainya. Di bawah ini, terdapat beberapa bahaya dan risiko vertigo yang dapat membahayakan kesehatan tubuh:

  • Tingginya risiko terjatuh dan cedera, karena kehilangan keseimbangan.
  • Mengalami gangguan penglihatan.
  • Rasa mual dan muntah yang disertai vertigo. Kondisi ini berisiko memicu dehidrasi jika tidak diimbangi dengan mengonsumsi cairan dalam jumlah yang cukup.
  • Penurunan kualitas hidup. Dalam beberapa kasus vertigo kronis, kondisi yang mungkin terjadi, antara lain stres, gangguan emosi dan konsentrasi, serta terhambatnya aktivitas.
  • Kesulitan atau bahkan kehilangan kemampuan pendengaran. Kondisi ini terjadi dalam kasus penyakit meniere yang menjadi salah satu penyebab vertigo perifer yang terkadang disertai dengan gangguan pendengaran.

Lain lagi dengan vertigo sentral yang merupakan penyebab terjadinya gangguan pada sistem saraf pusat (otak). Penyebab utama dari vertigo sentral ini adalah penyakit serebrovaskular yang lebih sering dikenal dengan penyakit stroke. Faktor pemicu terjadinya vertigo sentral yang telah diketahui sejauh ini, antara lain:

  • Tumor otak
  • Migrain
  • Infeksi
  • Cedera kepala
  • Multiple sclerosis

Bahaya yang ditimbulkan dari vertigo sentral dikatakan cukup berbahaya, karena dapat mengancam kondisi kesehatan penderita itu sendiri. Sejauh ini, bahaya vertigo sentral yang diketahui, yaitu:

  • Munculnya gejala neurologis lainnya, seperti kesulitan menelan, kemampuan berbicara secara jelas menurun (bicara pelo), rasa lemas pada salah satu sisi badan, dan mulut yang terlihat mencong.
  • Memicu nistagmus vertikal, yaitu perlambatan gerakan mata dari satu arah yang diikuti gerakan cepat ke arah sebaliknya. Kondisi ini dapat terjadi tanpa kesadaran penuh dan tidak dapat dikontrol oleh penderita vertigo sentral.
  • Penurunan kesadaran.

Sementara itu, vertigo sentral dapat terjadi dengan beberapa risiko yang perlu diwaspadai. Dalam kasus normal, aliran darah diharuskan mengalir dengan lancar ke pusat keseimbangan yang terletak di batang otak dan otak kecil (serebelum). Sementara itu, pada penderita vertigo sentral, proses ini terganggu, karena adanya kemungkinan perdarahan atau penyempitan pembuluh darah otak maupun penekanan yang terjadi akibat massa tumor.

Beberapa risiko yang dapat memperburuk kondisi perlu Anda waspadai, seperti kondisi tekanan darah tinggi (hipertensi), kebiasaan merokok, usia lanjut, kelainan irama jantung (fibrilasi atrium), dan diabetes melitus.

Seseorang pada umumnya akan mengalami vertigo yang dapat hilang setelah 24-36 jam. Namun, jika kondisi vertigo tersebut disertai dengan kondisi kesehatan tertentu dan bahaya vertigo yang telah disebutkan, ada baiknya untuk berkonsultasi dengan dokter agar mendapatkan penanganan yang tepat.

7 Hal Salah Kaprah soal Distonia

  • July 14, 2020

Penyakit distonia memang tidak terlalu umum terdengar. Namun, jenis penyakit neurologi ini nyatanya semakin banyak ditemukan sehingga membuat kesadaran akan penyakit ini perlu ditingkatkan. Secara umum, distonia merupakan gangguan pergerakan di bagian tubuh yang membuat Anda tidak mampu mengontrol otot-otot tubuh. Ketidakmampuan kontrol ini membuat gerakan pada tubuh menjadi tidak normal.

distonia

Gejala distonia biasanya baru disadari ketika penyakit ini sudah memasuki tahap lumayan parah. Pada saat itu, Anda bahkan akan sulit untuk mengontrol gerakan otot guna berjalan maupun menulis. Gejala akan semakin parah ketika Anda merasa stres.

Karena belum terlalu familiar di lingkungan awam, masih banyak terjadi salah kaprah mengenai distonia. Berikut ini adalah beberapa hal salah kaprah yang sering dipandang orang terjadi jenis gangguan pergerakan yang satu ini.

  1. Sama dengan Parkinson

Gejala gerakan yang sulit terkontrol membuat distonia kerap dikaitkan dengan penyakit parkinson. Bahkan, jelas keduanya merupakan jenis penyakit yang berbeda. Hanya saja memang, distonia akan lebih mudah menyerang orang yang sudah terlebih dahulu menderita penyakit parkinson.

  • Selalu Disertai Tremor

Harus diingat bahwa distonia sebenarnya merupakan penyakit neorologi, bukan penyakit yang memang menyerang saraf secara langsung. Karena itu, sebenarnya tidak semua gejala distonia diikuti dengan tremor. Gejala  yang pasti dari distonia adalah kontraksi otot yang menyebabkan gerakan tubuh terlihat aneh sebab tidak terkontrol.

  • Merupakan Penyakit Genetik

Distonia memang kerap terjadi pada orang-orang yang memang memiliki potensi bawaan genetik terkait penyakit ini. Akan tetapi, ada juga distonia yang dipicu oleh kehadiran penyakit-penyakit lain. Contohnya, orang yang mengalami stroke, parkinson, ataupun tumor otak pada akhirnya kerap mengalami gejala distonia sebagai efek samping.

  • Menyerang Usia Dewasa

Gejala gangguan pergerakan berupa distonia memang umumnya mulai dirasakan oleh orang-orang yang berusia 21 tahun ke atas. Namun, salah jika mengatakan bahwa penyakit ini hanya menyerang orang dewasa. Nyatanya banyak anak-anak di bawah usia remaja yang ketika diperiksa memiliki gejala distonia. Hanya saja karena gejalanya masih sangat ringan, banyak orang yang tidak menyadarinya dan tidak melakukan pemeriksaan lebih lanjut.

  • Tak Dapat Disembuhkan

Adalah benar jika dikatakan bahwa distonia merupakan suatu jenis penyakit seumur hidup. Namun, menjadi salah kaprah jika distonia disebut tidak bisa disembuhkan. Gejala gangguan pergerakan akibat penyakit ini sebenarnya bisa dikurangi dan dipulihkan dengan penanganan yang tepat. Hanya saja memang, ada potensi gangguan tersebut datang kembali di kemudian hari.

  • Gangguan Gerakan Bersifat Acak

Banyak orang menganggap gangguan pergerakan yang dialami pasien distonia terjadi secara acak. Di mana gerakannya bisa berpindah secara cepat dari satu bagian tubuh ke bagian tubuh lain. Padahal sebenarnya, distonia hanya menyerang beberapa area tubuh tertentu dan daerah di sekitarnya secara berulang.

  • Tidak Sebabkan Kematian

Distonia kadang-kadang dinilai remeh sebab dianggap tidak menyebabkan kematian. Gangguan pergerakan ini dinilai hanya akan membuat aktivitas Anda terganggu. Padahal, pasien-pasien distonia diketahui ternyata memiliki potensi usia lebih pendek daripada mereka yang tidak terkena penyakit ini. Kondisi ini terjadi karena gejala distonia bisa saja memicu gangguan pernapasan yang membahayakan jiwa, khususnya bagi mereka yang menderita distonia di bagian leher.

***

Mengetahui fakta penyakit ini secara lebih jelas akan membuat Anda lebih waspada terhadap penyakit ini. Jika kewaspadaan Anda tinggi, Anda bisa segera menyadari gejala distonia yang menimpa Anda dan melakukan penanganan medis yang tepat agar kondisinya tidak semakin memburuk. Salam sehat selalu!