Hati-Hati! Gejala Ini Mungkin Tanda Sembelit Pada Bayi

  • August 14, 2020

Banyak orang tua melakukan pemantauan rutin pada bayi, khususnya saat bayi baru saja dilahirkan. Saat bayi sakit atau merasakan ketidaknyamanan, Anda perlu mengenali tanda-tandanya, termasuk tanda kondisi sembelit pada bayi.

Pada dasarnya, wajar bagi bayi untuk tidak buang air besar selama berhari-hari. Seringkali, semua nutrisi dari ASI diserap oleh tubuh bayi, sehingga bayi tidak perlu buang air besar. Akan tetapi, Anda harus bisa mendeteksi apabila hal tersebut dipicu oleh penyakit sembelit.

Tanda-tanda sembelit pada bayi

Sembelit pada bayi cukup jarang terjadi. Bayi yang mengonsumsi ASI secara rutin memiliki resiko lebih rendah untuk mengalami sembelit. Sembelit lebih mungkin terjadi pada bayi yang mengonsumsi produk susu bayi.

Biasanya, tanda-tanda bayi mengalami sembelit antara lain:

  • Jarang buang air besar

Jarang buang air besar tentunya menjadi tanda utama ketika bayi mengalami sembelit. Namun, Anda juga harus memperhatikan intensitas buang air besar dengan konsistensinya.

Jarang buang air besar tidak selalu berarti bayi mengalami sembelit. Setelah berhari-hari, apabila bayi mengeluarkan tinja yang keras, Anda perlu mewaspadai kemungkinan bayi sembelit.

  • Berdarah saat buang air besar

Saat sembelit, bayi mengalami kesulitan buang air besar. Mereka akan mengeluarkan tenaga lebih besar untuk buang air besar, memicu munculnya darah.

Apabila Anda melihat adanya bercak darah pada tinja bayi, kemungkinan besar bayi sedang berusaha keras untuk buang air besar. Darah tersebut muncul dari luka di sekitar dinding anus akibat tinja yang keras.

  • Menolak makan

Tanda lain dari sembelit pada bayi adalah menurunnya nafsu makan bayi. Bayi akan lebih mudah merasa kenyang saat sembelit, sehingga lebih sering menolak untuk makan. Selain itu, penolakan juga dilakukan karena bayi merasakan ketidaknyamanan di area perut.

Cara mencegah sembelit pada bayi

Sembelit bukanlah kondisi yang berbahaya, namun dapat menganggu keseharian bayi Anda. Oleh sebab itu, Anda perlu melakukan berbagai upaya pencegahan agar bayi terhindar dari kemungkinan sembelit. Pencegahan sembelit pada bayi bisa Anda lakukan dengan:

  • Menjaga kualitas ASI

Di tengah masa menyusui, penting bagi Anda untuk menjaga kualitas ASI Anda. Kualitas ASI yang membaik akan memberikan nutrisi yang baik pula bagi bayi. Cara mudah untuk menjaga kualitas ASI adalah dengan mengontrol pola makan atau melakukan diet sehat.

Jika Anda memberikan produk susu pada bayi, sebaiknya imbangi dengan pemberian ASI yang lebih banyak. Terkadang, kandungan dalam produk susu bisa memicu bayi terkena sembelit.

  • Memastikan bayi terhidrasi

Sama seperti orang dewasa, bayi membutuhkan hidrasi yang cukup agar bisa buang air besar dengan lancar. Sebagai orang tua, Anda perlu memastikan bayi tetap terhidrasi dengan memberi cairan yang cukup.

Untuk bayi di atas 6 bulan, Anda boleh memberikan jus buah, khususnya buah pir, untuk membantu mempercepat proses kontraksi usus besar pada bayi. Pastikan jus tidak terlalu manis dengan mencampurkannya dengan air mineral.

  • Mengonsumsi makanan berserat tinggi

Makanan yang Anda konsumsi akan menentukan kualitas ASI yang dikonsumsi bayi. Oleh sebab itu, Anda sebaiknya mencoba untuk mengonsumsi makanan berserat tinggi, seperti brokoli, apel tanpa kulit, pir, dan buah persik.

Anda juga bisa memberikan makanan tersebut langsung pada bayi apabila bayi Anda sudah cukup besar untuk mengonsumsi makanan padat.

Sebagai orang tua, Anda harus memperhatikan kondisi bayi setiap saat. Sebaiknya, lakukan upaya pencegahan untuk menghindari sembelit pada bayi.

Tips Atasi Morning Sickness Agar Tak Semakin Parah

  • August 6, 2020

Morning sickness atau dikenal juga dengan mual dan muntah saat hamil adalah gejala yang paling sering dialami oleh ibu hamil. Bahkan, gejala ini bisa terjadi hingga beberapa kali dan menyebabkan ketidaknyamanan sepanjang hari. Biasanya, ibu hamil akan mengalami morning sickness saat memasuki usia kehamilan 6 minggu dan mulai berhenti saat usia kehamilan 12 minggu. Sebenarnya, gejala ini tidak berbahaya untuk janin, akan tetapi morning sickness yang berlebihan atau hiperemesis gravidarum akan membuat ibu mengalami dehidrasi dan malnutrisi.

morning sickness

Apa sih penyebab morning sickness?

Umumnya, penyebab morning sickness pada ibu hamil bisa bervariasi. Namun, penyebab yang paling sering terjadi adalah meningkatnya kadar hormon tertentu selama beberapa minggu pertama kehamilan. Selain itu, rendahnya kadar gula darah juga dapat menyebabkan mual dan muntah pada ibu hamil. Faktor lainnya yang sering memicu morning sickness adalah sebagai berikut.

  • Memiliki bayi kembar.
  • Tubuh terlalu lelah.
  • Stres dan depresi.
  • Sering mual dan muntah pada kehamilan sebelumnya.
  • Memiliki riwayat keluarga yang hiperemesis gravidarum
  • Mabuk perjalanan, migrain, bau atau rasa tertentu, atau penggunaan pil KB sebelum hamil.

Morning sickness tidak hanya terjadi di pagi hari, tetapi bisa sepanjang hari bahkan ketika Anda mau tidur di malam hari. Oleh sebab itu, gejala ini perlu diatasi apalagi sampai membuat Anda tidak nyaman seharian, tubuh melemah, dan tak bisa tidur.

Bagaimana cara mengatasi morning sickness ini?

Perlu dilakukan beberapa langkah untuk mengatasi mual dan muntah yang berlebihan selama hamil. Terlebih lagi, makanan yang Anda konsumsi tidak dapat diserap oleh tubuh karena dimuntahkan kembali. Nah, berikut tips untuk mengatasi morning sickness agar tak semakin parah.

  • Istirahat yang cukup.
  • Hindari makanan dengan aroma menyengat yang dapat merangsang mual Anda.
  • Isi perut begitu Anda bangun tidur dengan makanan sederhana, seperti roti panggang atau biskuit. Jangan biarkan perut Anda kosong di pagi hari.
  • Konsumsi makanan tinggi karbohidrat dan rendah lemak, seperti nasi, roti, dan pasta.
  • Beberapa ibu hamil ada yang mual saat mencoba makan makanan yang panas. Jadi, hindari dulu makanan yang panas jika membuat Anda mual atau muntah.
  • Penuhi kebutuhan cairan dengan minum banyak air putih.
  • Atasi mual dengan konsumsi makanan yang mengandung jahe. Bila perlu, konsultasikan dengan dokter atau apoteker sebelum Anda mengonsumsi suplemen jahe selama hamil.
  • Akupresur, yaitu pemberian tekanan pada bagian tubuh tertentu untuk membantu meringankan gejala. Biasanya, menggunakan gelang khusus di lengan atau pita. Meskipun penelitiannya masih kurang, tetapi tidak ada salahnya Anda coba.

Apakah morning sickness bisa diatasi dengan obat-obatan?

Bisa. Apabila dengan beberapa tips di atas tidak juga ampuh mengatasi morning sickness Anda, maka bisa beralih dengan obat-obatan. Umumnya, obat-obatan yang digunakan adalah sebagai berikut.

  • Vitamin B-6 dan doxylamine.

Kombinasi obat ini banyak dijual di pasaran sebagai Unisom SleepTabs. American College of Obstetricians dan Gynaecologists telah merekomendasikan obat ini untuk meredakan mual di pagi hari selama trimester pertama. Kombinasi tersebut juga telah terbukti secara ilmiah efektif mengurangi mual dan muntah hingga 70 persen dari kasus. Hanya saja, Anda akan merasakan beberapa efek samping, seperti mengantuk, mulut kering, sakit kepala, gugup, dan sakit perut.

  • Diclegis.

Obat ini juga telah disetujui oleh FDA untuk digunakan pada ibu hamil. Uji klinis yang dilakukan menunjukkan bahwa Diclegis dapat meredakan mual pada 44 persen ibu hamil yang suka mual di pagi hari.

Selain kedua obat tersebut, ada beberapa obat lainnya yang dapat digunakan untuk meredakan rasa mual dan muntah yang berlebihan, yaitu antihistamin, phenothiazine, metoclopramide (Reglan), dan antasida. Konsultasikan dengan dokter atau apoteker sebelum mengonsumsi obat-obatan, agar dosis obat sesuai dengan yang dibutuhkan oleh tubuh Anda. Jika morning sickness terus berlanjut dan tak kunjung reda, segera hubungi dokter untuk mendapat penanganan medis lebih lanjut.

Ragam Larangan Makanan untuk Penderita Pendarahan Lambung

  • August 5, 2020
ragama larangan makanan untuk penderita pendarahan lambung

Sistem pencernaan manusia termasuk kompleks. Ada begitu banyak organ, senyawa, dan lain sebagainya yang mendukung kerja sistem pencernaan manusia. Makanan dan minuman memiliki peran vital dalam situasi ini. Salah-salah, apa yang kita konsumsi bisa menyebabkan masalah pada sistem pencernaan, termasuk salah satunya adalah pendarahan lambung.

Kendati tidak berhubungan secara langsung, tetapi pola konsumsi memiliki andil dalam kondisi pendarahan lambung. Sebagai gambaran saja, makanan yang tidak cocok bisa memicu tukak lambung. Sementara tukak lambung adalah salah satu faktor terbesar yang memicu pendarahan lambung. 

Perlu kiranya diketahui bahwa pendarahan pada lambung bukan termasuk jenis penyakit. Kondisi ini merupakan gejala atau komplikasi dari gangguan atau penyakit lain. Oleh karenanya, penting kiranya untuk memiliki informasi terkait apa-apa saja yang boleh dan tidak boleh dikonsumsi oleh penderita atau untuk mencegah terjadinya pendarahan lambung.

  • Makanan yang Tinggi Kandungan Gas

Makanan yang mengandung gas merupakan musuh terbesar bagi mereka yang memiliki gangguan pada lambungnya. Makanan jenis ini menyebabkan penumpukan gas dalam lambung, membuat perut mudah kembung, dan menimbulkan rasa begah. Beberapa jenis makanan yang disinyalir tinggi gas adalah sawi, kol, pisang ambon, kedondong, nangka, dan buah-buahan yang melalui proses pengeringan.

  • Minuman Bersoda

Minuman bersoda kedudukannya sama seperti makanan tinggi kandungan gas. Mengonsumsinya juga akan membuat produksi gas dalam lambung menjadi berlebih. Tingginya kandungan gas di dalam lambung menjadi faktor yang kerap membuat sistem pencernaan seseorang terganggu.

  • Pemicu Asam Lambung

Orang yang menderita pendarahan lambung harus berhati-hati dengan segala hal yang dapat memicu asam lambung. Kafein dalam kopi, minuman beralkohol dengan kadar 5 hingga 20 persen, anggur putih, sari buah sitrus, dan aneka buah yang sifatnya asam, seperti jeruk nipis berpotensi menyebabkan peradangan di lambung yang pada akhirnya bisa membuat pendarahan lambung pula.

  • Makanan yang Sulit Dicerna

Makanan yang sulit dicerna akan membuat lambung harus bekerja ekstra dan berakibat pada produksi gas berlebih. Kondisi ini bisa membuat tukak lambung semakin parah. Jenis makanan yang termasuk dalam kategori ini adalah keju, kue tar, dan makanan berlemak seperti gorengan atau makanan bersantan.

  • Makanan Perusak Dinding Lambung

Hati-hati dengan makanan pedas jika tak ingin mengalami pendarahan lambung. Pasalnya, makanan pedas memiliki sifat merusak dinding lambung. Kondisi ini membuat tukak lambung alami semakin buruk. Selain makanan pedas, jenis makanan yang memiliki sifat merusak dinding lambung adalah cuka, merica, dan bumbu yang sifatnya asam.

Meski banyak dari makanan atau minuman yang masuk ke dalam daftar “berbahaya”, bukan berarti penderita pendarahan lambung tak bisa mengonsumsinya sama sekali. Mereka masih boleh memakan atau meminumnya, asalkan dengan jumlah yang aman.

Adapun makanan yang justru baik untuk kesehatan pencernaan para penderita gangguan lambung adalah segala hal yang terbuat dari gandum atau biji-bijian. Ini lantaran bahan itu mengandung serat baik pada tubuh dan dapat ditolerir kandungannya untuk dicerna lebih dalam pada lambung.

Selain itu makanan yang kaya akan protein juga dinilai baik untuk kesehatan lambung. Lebih lanjut, jika kondisi lambung Anda tak sesehat yang lain, Anda harus memperhatikan banyak hal, mulai dari makan tepat waktu, konsumsi obat yang rutin, dan tidak makan dalam jumlah yang berlebihan. 

Semua itu bertujuan agar kondisi lambung Anda tetap baik-baik saja dan tidak memicu kondisi-kondisi lain yang berbahaya, termasuk pendarahan lambung.

Fakta-Fakta Terkait Operasi Spinal Fusion

  • July 23, 2020

Tulang belakang adalah penunjang kehidupan seorang manusia. Keberadaan, dengan segala fungsinya, memungkinkan manusia, juga makhluk vertebrata lain menjalankan aktivitas sehari-hari. Namun, ada beberapa kondisi yang menyebabkan tulang belakang kehilangan fungsinya. Jika sudah demikian, operasi kadang jadi tindakan yang harus diambil dokter. Operasi itu disebut spinal fusion.

Lebih detail, spinal fusion adalah tindakan yang dilakukan dengan menyambung beberapa ruas tulang belakang seseorang. Fungsinya mungkin seperti pen pada prosedur penyembuhan patah tulang, yakni mencegah terjadinya gerakan pada tulang yang disasar.

“Tulang tambahan” yang digunakan untuk mengisi ruang kosong di tulang belakang itu memang mengurangi kelenturan tulang belakang, tetapi spinal fusion ampuh mengatasi gangguan pada tulang belakang seseorang.

Selain sekelumit fakta mengenai spinal fusion di atas, berikut ini adalah fakta-fakta lain mengenai prosedur operasi ini:

  1. Operasi Spinal Fusion Tak Butuh Sayatan Lebar

Saat ini, metode spinal fusion tak lagi seperti sepuluh atau dua puluh tahun yang lalu. Kini, spinal fusion tak lagi jadi sesuatu yang harus ditakutkan. Dahulu, spinal fusion melibatkan sayatan besar di punggung untuk mengekspos tulang belakang, kemudian memotong, dan menarik otot-otot tulang belakang yang tebal.

Dengan adanya perkembangan, ahli bedah kini hanya memerlukan sayatan kecil (1 hingga 2 inci) dan melakukan efisiensi dengan tidak banyak interaksi dengan organ lain unruk mencapai tulang belakang. Mikroskop memungkinkan dokter untuk melihat daerah tersebut lebih jelas dan membantu pekerjaannya menjadi lebih mudah.

Spinal fusion saat ini membuat pasien tak kehilangan banyak darah, rasa sakit pascaoperasi yang minim, risiko infeksi yang lebih rendah, rawat inap yang lebih pendek, dan pemulihan yang lebih cepat. Jika dahulu setidaknya butuh satu minggu perawatan sebelum pasien diperbolehkan pulang, kini cukup satu hari saja.

  • Jaminan Pasien Pulih dengan Sempurna

Mungkin banyak dari pasien yang khawatir mereka tak dapat kembali menjalankan aktivitas seperti sediakala setelah menjalani spinal fusion. Namun, faktanya berkata lain. Pada tahap dan kondisi tertentu, mereka yang menjalani spinal fusion tetap dapat “hidup normal” dengan segala aktivitasnya.

Kondisi itu adalah untuk spinal fusion yang hanya melibatkan satu atau dua level (setiap vertebra mewakili level tulang belakang), yang terdiri dari sekitar 80 persen dari semua spinal fusion yang dilakukan.

  • Spinal Fusion Bukan “Jalan Pertama”

Para penderita gangguan tulang belakang sebenarnya tak selalu harus melakukan operasi spinal fusion ketika pertama kali mendatangi fasilitas kesehatan. Spinal fusion biasanya menjadi upaya kesekian setelah terapi fisik, suntikan tulang belakang, dan/atau terapi obat tak kunjung berbuah hasil.

Di sini, kecermatan dan kompetensi dokter amat dibutuhkan. Pasalnya, bagaimana dia membaca kondisi pasien punya andil yang besar bagi besar dan kecilnya kemungkinan kesembuhan pasien.

  • Biar Bagaimanapun, Spinal Fusion Adalah Upaya Terbaik

Sudah banyak penelitian yang mengonfirmasi bahwa pasien yang mendapat tindakan spinal fusion mendapatkan hasil yang baik. Banyak dari mereka yang tak lagi mengalami keluhan di tulang belakangnya ketimbang mereka yang dirawat secara non-bedah.

Fusion juga terbukti sebagai pengobatan yang sangat efektif untuk ketidakstabilan atau cacat tulang belakang. Akan tetapi, tindakan ini harus benar-benar ditangani oleh ahli bedah tulang belakang yang berkualifikasi yang dapat menentukan perawatan terbaik berdasarkan kondisi spesifik pasien.

  • Sayangnya, Tidak Semua Keluhan Tulang Belakang Mampu Diakomodir Spinal Fusion

Seperti yang telah disinggung sebelumnya, spinal fusion mungkin dapat memberikan hasil terbaik kepada pasien yang mengalami keluhan tulang belakang, seperti kelainan tulang belakang, patah tulang belakang, atau kondisi-kondisi lain terkait posisi dan konstruksi tulang belakang.

Namun, untuk masalah tulang belakang lantaran artritis, penyembuhannya tak semudah itu. Pasalnya, meski telah dilakukan spinal fusion, kondisi itu membuat masalah lebih kompleks di tulang belakang seseorang.

Spinal fusion tidak bisa mengubah perkembangan alami radang sendi di daerah lain di tulang belakang, meski faktanya tindakan medis ini dapat mengatasi pembedahan dengan area spesifik dan mengurangi gejala secara efektif.

***

Itulah beberapa fakta terkait tindakan operasi spinal fusion untuk mengatasi beberapa masalah pada tulang belakang seseorang. Kendati dinilai ampuh, spinal fusion tetap memiliki cela. Oleh karenanya, konsultasi dan diagnosis oleh tenaga medis kompeten menjadi pedoman penting sebelum seseorang menjalani tindakan ini.

Bahaya Vertigo Bisa Picu Stroke? Simak Faktanya Berikut!

  • July 18, 2020

Sensasi seperti ruangan berputar-putar adalah gejala umum vertigo yang seringkali dikeluhkan. Rasa sakit kepala yang begitu berat ini serupa dengan pengalaman kecil Anda setelah memutarkan badan sekencang-kencangnya kemudian berhenti secara mendadak. Bedanya, gejala vertigo tersebut tidak dapat direncanakan, melainkan datang secara tiba-tiba.

Orang awam mungkin akan menggambarkan vertigo seperti pusing, kliyengan, dan tubuh yang tidak seimbang, karena sensasi ruangan di sekitarnya berputar. Kondisi ini dipicu oleh gangguan pada pusat keseimbangan tubuh yang terletak pada telinga bagian dalam atau batang otak dan otak kecil.

Setidaknya tercatat sekitar 20-30% dari keseluruhan populasi mengalami vertigo. Meskipun kondisi ini seringkali dialami, vertigo tidak boleh dianggap remeh begitu saja. Perlu dicatat, vertigo bukanlah sebuah penyakit, melainkan gejala.

Seberapa tinggi risiko bahaya vertigo yang mungkin dapat muncul?

Bahaya vertigo tidak hanya berhubungan dengan penyakit yang memicu timbulnya gejala vertigo tersebut, namun juga gejala yang menyertainya. Di bawah ini, terdapat beberapa bahaya dan risiko vertigo yang dapat membahayakan kesehatan tubuh:

  • Tingginya risiko terjatuh dan cedera, karena kehilangan keseimbangan.
  • Mengalami gangguan penglihatan.
  • Rasa mual dan muntah yang disertai vertigo. Kondisi ini berisiko memicu dehidrasi jika tidak diimbangi dengan mengonsumsi cairan dalam jumlah yang cukup.
  • Penurunan kualitas hidup. Dalam beberapa kasus vertigo kronis, kondisi yang mungkin terjadi, antara lain stres, gangguan emosi dan konsentrasi, serta terhambatnya aktivitas.
  • Kesulitan atau bahkan kehilangan kemampuan pendengaran. Kondisi ini terjadi dalam kasus penyakit meniere yang menjadi salah satu penyebab vertigo perifer yang terkadang disertai dengan gangguan pendengaran.

Lain lagi dengan vertigo sentral yang merupakan penyebab terjadinya gangguan pada sistem saraf pusat (otak). Penyebab utama dari vertigo sentral ini adalah penyakit serebrovaskular yang lebih sering dikenal dengan penyakit stroke. Faktor pemicu terjadinya vertigo sentral yang telah diketahui sejauh ini, antara lain:

  • Tumor otak
  • Migrain
  • Infeksi
  • Cedera kepala
  • Multiple sclerosis

Bahaya yang ditimbulkan dari vertigo sentral dikatakan cukup berbahaya, karena dapat mengancam kondisi kesehatan penderita itu sendiri. Sejauh ini, bahaya vertigo sentral yang diketahui, yaitu:

  • Munculnya gejala neurologis lainnya, seperti kesulitan menelan, kemampuan berbicara secara jelas menurun (bicara pelo), rasa lemas pada salah satu sisi badan, dan mulut yang terlihat mencong.
  • Memicu nistagmus vertikal, yaitu perlambatan gerakan mata dari satu arah yang diikuti gerakan cepat ke arah sebaliknya. Kondisi ini dapat terjadi tanpa kesadaran penuh dan tidak dapat dikontrol oleh penderita vertigo sentral.
  • Penurunan kesadaran.

Sementara itu, vertigo sentral dapat terjadi dengan beberapa risiko yang perlu diwaspadai. Dalam kasus normal, aliran darah diharuskan mengalir dengan lancar ke pusat keseimbangan yang terletak di batang otak dan otak kecil (serebelum). Sementara itu, pada penderita vertigo sentral, proses ini terganggu, karena adanya kemungkinan perdarahan atau penyempitan pembuluh darah otak maupun penekanan yang terjadi akibat massa tumor.

Beberapa risiko yang dapat memperburuk kondisi perlu Anda waspadai, seperti kondisi tekanan darah tinggi (hipertensi), kebiasaan merokok, usia lanjut, kelainan irama jantung (fibrilasi atrium), dan diabetes melitus.

Seseorang pada umumnya akan mengalami vertigo yang dapat hilang setelah 24-36 jam. Namun, jika kondisi vertigo tersebut disertai dengan kondisi kesehatan tertentu dan bahaya vertigo yang telah disebutkan, ada baiknya untuk berkonsultasi dengan dokter agar mendapatkan penanganan yang tepat.

7 Hal Salah Kaprah soal Distonia

  • July 14, 2020

Penyakit distonia memang tidak terlalu umum terdengar. Namun, jenis penyakit neurologi ini nyatanya semakin banyak ditemukan sehingga membuat kesadaran akan penyakit ini perlu ditingkatkan. Secara umum, distonia merupakan gangguan pergerakan di bagian tubuh yang membuat Anda tidak mampu mengontrol otot-otot tubuh. Ketidakmampuan kontrol ini membuat gerakan pada tubuh menjadi tidak normal.

distonia

Gejala distonia biasanya baru disadari ketika penyakit ini sudah memasuki tahap lumayan parah. Pada saat itu, Anda bahkan akan sulit untuk mengontrol gerakan otot guna berjalan maupun menulis. Gejala akan semakin parah ketika Anda merasa stres.

Karena belum terlalu familiar di lingkungan awam, masih banyak terjadi salah kaprah mengenai distonia. Berikut ini adalah beberapa hal salah kaprah yang sering dipandang orang terjadi jenis gangguan pergerakan yang satu ini.

  1. Sama dengan Parkinson

Gejala gerakan yang sulit terkontrol membuat distonia kerap dikaitkan dengan penyakit parkinson. Bahkan, jelas keduanya merupakan jenis penyakit yang berbeda. Hanya saja memang, distonia akan lebih mudah menyerang orang yang sudah terlebih dahulu menderita penyakit parkinson.

  • Selalu Disertai Tremor

Harus diingat bahwa distonia sebenarnya merupakan penyakit neorologi, bukan penyakit yang memang menyerang saraf secara langsung. Karena itu, sebenarnya tidak semua gejala distonia diikuti dengan tremor. Gejala  yang pasti dari distonia adalah kontraksi otot yang menyebabkan gerakan tubuh terlihat aneh sebab tidak terkontrol.

  • Merupakan Penyakit Genetik

Distonia memang kerap terjadi pada orang-orang yang memang memiliki potensi bawaan genetik terkait penyakit ini. Akan tetapi, ada juga distonia yang dipicu oleh kehadiran penyakit-penyakit lain. Contohnya, orang yang mengalami stroke, parkinson, ataupun tumor otak pada akhirnya kerap mengalami gejala distonia sebagai efek samping.

  • Menyerang Usia Dewasa

Gejala gangguan pergerakan berupa distonia memang umumnya mulai dirasakan oleh orang-orang yang berusia 21 tahun ke atas. Namun, salah jika mengatakan bahwa penyakit ini hanya menyerang orang dewasa. Nyatanya banyak anak-anak di bawah usia remaja yang ketika diperiksa memiliki gejala distonia. Hanya saja karena gejalanya masih sangat ringan, banyak orang yang tidak menyadarinya dan tidak melakukan pemeriksaan lebih lanjut.

  • Tak Dapat Disembuhkan

Adalah benar jika dikatakan bahwa distonia merupakan suatu jenis penyakit seumur hidup. Namun, menjadi salah kaprah jika distonia disebut tidak bisa disembuhkan. Gejala gangguan pergerakan akibat penyakit ini sebenarnya bisa dikurangi dan dipulihkan dengan penanganan yang tepat. Hanya saja memang, ada potensi gangguan tersebut datang kembali di kemudian hari.

  • Gangguan Gerakan Bersifat Acak

Banyak orang menganggap gangguan pergerakan yang dialami pasien distonia terjadi secara acak. Di mana gerakannya bisa berpindah secara cepat dari satu bagian tubuh ke bagian tubuh lain. Padahal sebenarnya, distonia hanya menyerang beberapa area tubuh tertentu dan daerah di sekitarnya secara berulang.

  • Tidak Sebabkan Kematian

Distonia kadang-kadang dinilai remeh sebab dianggap tidak menyebabkan kematian. Gangguan pergerakan ini dinilai hanya akan membuat aktivitas Anda terganggu. Padahal, pasien-pasien distonia diketahui ternyata memiliki potensi usia lebih pendek daripada mereka yang tidak terkena penyakit ini. Kondisi ini terjadi karena gejala distonia bisa saja memicu gangguan pernapasan yang membahayakan jiwa, khususnya bagi mereka yang menderita distonia di bagian leher.

***

Mengetahui fakta penyakit ini secara lebih jelas akan membuat Anda lebih waspada terhadap penyakit ini. Jika kewaspadaan Anda tinggi, Anda bisa segera menyadari gejala distonia yang menimpa Anda dan melakukan penanganan medis yang tepat agar kondisinya tidak semakin memburuk. Salam sehat selalu!

Simak Cara Mudah Cegah Tumbuhnya Tumor Jinak Lambung

  • June 5, 2020

Tumor jinak tidak selalu harus diatasi dengan prosedur operasi. Menerapkan pola hidup sehat dianggap sebagai salah satu cara untuk menekan pemicu timbulnya tumor jinak, seperti pada lambung Anda.

Tidak seperti kanker, tumor jinak tidak menyerang jaringan maupun menyebar ke sel-sel tubuh lainnya, seperti tumor ganas. Namun, Anda tetap harus mewaspadai gejala tumor jinak yang terjadi pada lambung. Ada pun gejala-gejala yang telah dikenali, antara lain:

  • Demam
  • Rasa tidak nyaman dan nyeri pada perut
  • Mual dan muntah
  • Penurunan nafsu makan
  • Lebih cepat merasa lelah
  • Pendarahan pada lambung yang memicu anemia

Sayangnya, hingga saat ini belum dapat diketahui penyebab tepatnya tumor jinak pada lambung. Namun, kondisi ini sering kali dihubungkan dengan infeksi yang disebabkan oleh bakteri Helicobacter pylori yang juga menjadi penyebab peradangan pada lambung.

Selain bakteri, tumor jinak pada lambung dapat dipicu oleh gaya atau kebiasaan hidup tertentu, seperti kebiasaan merokok, mengonsumsi makanan dengan bahan pengawet, diasap, maupun diasinkan.

Beberapa kelompok yang memiliki risiko lebih besar mengidap tumor jinak pada lambung, yaitu kelompok laki-laki, kelompok orang yang berusia 50 hingga 70 tahun, penderita obesitas, dan orang yang memiliki kebiasaan mengonsumsi alkohol. Di samping itu, seseorang yang memiliki riwayat kesehatan tertentu, seperti pernah menjalani operasi lambung, menderita polip lambung, dan adanya riwayat kesehatan keluarga yang mengidap tumor maupun kanker lambung.

Beberapa hal yang dapat Anda lakukan untuk mencegah pemicu terjadinya tumor jinak lambung, yaitu:

  • Mengonsumsi makanan yang kaya akan serat, seperti sayuran dan buah-buahan.
  • Berhenti dari kebiasaan merokok dan jauhi asap rokok, sehingga tidak menjadi perokok pasif.
  • Mengurangi konsumsi makanan dengan kandungan pengawet, berlemak, dan diasap.
  • Tidak mengonsumsi minuman keras.
  • Melakukan olahraga secara teratur.
  • Menjaga berat badan ideal agar tidak menderita obesitas.
  • Menjalani pemeriksaan dini agar segera mendapat penanganan.

Selain itu, Anda juga tidak boleh ragu untuk berkonsultasi dan menemui dokter spesialis penyakit dalam (subspesialis gastroenterologi), jika Anda mengalami gejala seperti yang disebutkan di atas. Pemeriksaan dini pada tumor jinak dapat membantu mencegah terjadinya komplikasi yang lebih parah, terutama jika tumor jinak menekan pembuluh darah atau saraf.

Fakta-Fakta Penting Mengenai Sindrom Turner

  • April 25, 2020

Sindrom Turner merupakan salah satu dari banyaknya kelainan genetika yang membuat penderitanya memiliki ciri-ciri tertentu pada tubuhnya. Sindrom Turner bisa dibilang merupakan kelainan genetika yang langka, berikut fakta-fakta lebih jauh mengenai sindrom ini:

  • Gejala kelainan fisik sejak dalam kandungan, bayi, dan dewasa

Saat masih dalam kandungan, kelainan genetika sindrom Turner ini dapat dilihat melalui USG, yaitu berupa pengumpulan cairan dalam jumlah yang banyak di belakang leher atau pengumpulan cairan abnormal, kelainan jantung, dan ginjal.

Sedangkan pada saat bayi, beberapa kelainan akan terlihat lebih jelas, seperti leher lebar, telinga rendah, pembengkakan tangan dan kaki, serta mulut bagian bawah mengecil atau menyusut, jari-jari tangan dan kaki yang pendek. Ketika dewasa pertumbuhan akan terganggu, seperti masalah pada tinggi badan dan pubertas.

  • Berlangsung dalam waktu yang lama

Sindrom Turner merupakan kondisi seumur hidup. Pada umumnya, penderitanya berumur Panjang dan hidup secara sehat, namun beberapa rentan terhadap beberapa kondisi kronis.

  • Pengobatan bagi penderita sindrom Turner

Meskipun tidak ada obat untuk mengatasi sindrom Turner, namun ada beberapa perawatan dapat membantu meminimalkan gejalanya.

  • Jika diberikan pada anak usia dini, suntikan hormon seringkali dapat meningkatkan tinggi badan ketika mereka dewasa nanti.
  • Estrogen Replacement Therapy (Terapi penggantian estrogen). ERT dapat membantu memulai perkembangan seksual sekunder yang biasanya dimulai saat pubertas (sekitar usia 12 tahun).
  • Pemeriksaan kesehatan secara teratur untuk mengatasi infeksi telinga, tekanan darah tinggi, dan masalah pada kelenjar tiroid.
  • Berpengaruh pada kecerdasan

Umumnya wanita yang memiliki sindrom Turner memiliki tingkat kecerdasan yang normal. Namun, ada juga kemungkinan munculnya masalah-masalah, dalam mengembangkan kemampuan belajar, seperti kemungkinan adanya kesulitan dengan indera pengarah, belajar matematika, dan ingatan nonverbal.

  • Berpengaruh terhadap kesuburan

Wanita penderita sindrom Turner akan mengalami kesulitan untuk hamil dikarenakan memiliki masalah pubertas saat remaja. Namun, terdapat perawatan kesuburan untuk membantu meningkatkan peluang bagi penderita sindrom Turner untuk memiliki bayi. Walaupun pada saat hamil perlu diawasi dengan baik karena memiliki risiko juga terhadap penyakit jantung.

Warna Mata Anak Berbeda, Waspada Gejala Sindrom Horner

  • April 2, 2020

Apakah Anda familiar dengan sindrom Horner? Sindrom Horner adalah kumpulan gejala dan tanda yang disebabkan adanya kelainan pada jalur saraf simpatik yang menyelimuti wajah. Saraf ini memiliki peran untuk mengatur pergerakan pada tubuh, seperti detak jantung dan pergerakan pupil. Seseorang yang memiliki sindrom Horner akan mengalami kelainan pada salah satu bagian wajahnya.

Seperti Apa Gejala Sindrom Horner?

Sindrom Horner akan menunjukan beberapa gejala seperti yang disebutkan berikut:

  • Kelopak mata pada bagian atas anak akan terlihat seperti jatuh atau lebih turun jika dibandingkan dengan kelopak pada sisi lain wajah.
  • Terangkatnya kelopak mata pada bagian bawah.
  • Pupil mata yang mengecil (adanya lingkaran hitam di tengah mata). Dalam kondisi normal, pupil mata seharusnya akan membesar dan mengecil ketika terdapat cahaya masuk ke dalam mata. Namun, pada pasien sindrom Horner, ukuran pupil cenderung kecil dan membesar dengan lambat.
  • Perbedaan ukuran pupil di salah satu bagian wajah (anisokor).
  • Tidak diproduksinya keringat pada sisi wajah yang terdampak.
  • Tidak adanya perubahan warna pada wajah setelah berolahraga, bermain, maupun ketika berada di luar ruangan dalam cuaca yang terik.
  • Mata terlihat masuk lebih dalam ke dalam rongga mata.

Sindrom Horner dapat terjadi pada semua usia, termasuk pada anak yang berusia di bawah 2 tahun, dengan ciri adanya perbedaan warna pada kedua mata. Warna mata pada sisi wajah yang mengalami kelainan terlihat lebih terang jika dibandingkan dengan warna mata di sisi wajah lain. Bahkan, dalam kasus tertentu, tidak ditemukannya pigmen warna sama sekali (hipopigmentasi). Kondisi gejala sindrom Horner ini disebut dengan heterokromia.

Apa yang menyebabkan sindrom Horner?

Pada anak-anak, sindrom Horner seringkali dipicu oleh kelainan pada jalur kedua saraf simpatik yang menghubungkan otak dengan wajah. Di samping itu, penyebab sindrom Horner pada anak yang perlu diwaspadai adalah neuroblastoma. Neuroblastoma adalah keganasan sistem saraf yang umumnya menyerang anak di bawah 5 tahun.

Jika Anda mendapati warna mata anak Anda berbeda, Anda perlu waspada terhadap kelainan tersebut. Segera berkonsultasi pada dokter untuk mendapatkan diagnosis dan penanganan lebih dini.

Ini Dia Cara Mengobati Herpangina pada Anak

  • February 26, 2020

Jika Anda pernah menemukan bisul atau bentol di sekitar area langit-langit mulut anak Anda, kondisi tersebut kemungkinan adalah herpangina. Herpangina adalah infeksi salah satu infeksi yang umumnya terjadi pada anak-anak. Bentol yang timbul tersebut secara fisik terlihat seperti gelembung yang berisi air dan disertai dengan rasa sakit.

Seorang anak yang terinfeksi herpangina biasanya mengalami demam dan tidak memiliki nafsu makan. Infeksi ini lebih sering menyerang anak-anak yang berusia 3 hingga 10 tahun. Walaupun begitu, ibu hamil dan bayi yang belum lahir juga berisiko terkena infeksi ini. Begitu pula dengan orang dewasa lain.

Bentol-bentol tersebut tidak hanya muncul di sekitar area langit-langit mulut, namun juga di belakang tenggorokan.

Bagaimana mendiagnosis herpangina?

Ketika Anda ingin memeriksakan gejala yang dialami, dokter akan melakukan pemeriksaan pada bentol-bentol yang muncul pada tubuh penderita. Biasanya, hanya dengan pemeriksaan seperti ini, dokter dapat segera memberikan hasil diagnosis. Maka dari itu, pemeriksaan penunjang, seperti tes darah jarang direkomendasikan oleh dokter.

Gejala yang muncul akibat herpangina sekilas serupa dengan gejala hand foot mouth disease (HFMD). Penularan dari kedua jenis infeksi ini juga serupa, yaitu melalui percikan cairan dari tubuh penderita secara langsung.

Cara membedakan herpangina dengan HFMD, yaitu dengan memerhatikan area munculnya bentol. Jika pada herpangina, lesi akan muncul pada bagian belakang rongga mulut. Sementara itu, dalam kasus HFMD terlihat adanya lepuhan pada bagian depan rongga mulut.

Cara mengobati herpangina pada anak

Herpangina termasuk ke dalam jenis penyakit yang tidak berbahaya dan juga dapat menghilang dengan sendirinya. Maka dari itu, penyakit ini tidak memiliki prosedur khusus pengobatan.

Jika memang diperlukan pengobatan, dokter akan meresepkan obat-obat tertentu untuk mengobati herpangina dengan cara meredakan nyeri timbul. Beberapa obat yang direkomendasikan dokter, yaitu:

  • Obat pereda nyeri: obat pereda nyeri yang umumnya diresepkan yaitu ibuprofen dan paracetamol.
  • Obat anastetis: obat anastetis diberikan untuk mengurangi rasa nyeri di sekitar area langit-langit mulut dan pangkal tenggorokan yang disebabkan oleh gejala herpangina. Obat ini dikemas dalam bentuk tablet hisap, obat kumur, dan juga gel.