glaukoma kongenital primer

Glaukoma Kongenital Primer Bisa Sebabkan Kebutaan Dini pada Bayi

  • October 25, 2020

Berbeda dengan jenis glaukoma lain yang biasanya menjangkit usia lanjut, glaukoma kongenital primer terjadi pada bayi dan anak-anak di bawah 3 tahun. Penyakit mata ini tergolong langka dengan risiko 1 kejadian di setiap 10.000 bayi. Jika tidak tertangani dengan baik, glaukoma kongenital primer dapat mengakibatkan kebutaan permanen.  

Ciri-ciri bayi dengan glaukoma kongenital primer

Glaukoma kongenital primer merupakan penyakit bawaan dan kebanyakan baru terdeteksi saat bayi berusia 3-6 bulan. Tekanan cairan di mata bayi menyebabkan kerusakan saraf optik. Risiko paling parahnya yaitu terjadinya kebutaan yang bersifat irreversible atau tidak dapat kembali. Akan tetapi, sebanyak 80-90% bayi terbukti tidak akan mengalami gangguan penglihatan jika mampu tertangani sejak awal. Berikut ini merupakan ciri-ciri glaukoma kongenital primer secara umum: 

  • Saat kelopak mata menutup, bayi seakan sedang melindungi matanya
  • Terlihat sensitif saat terkena cahaya
  • Sering menangis mengeluarkan banyak air mata

Ciri-ciri seperti berikut ini juga bisa terjadi, meskipun tidak umum tergantung pada tingkat keparahan penyakit, diantaranya:

  • Kornea terlihat keruh atau berembun
  • Salah satu atau kedua mata lebih besar dari biasanya
  • Mata merah

Kornea berembun mengakibatkan penglihatan bayi buram. Hal ini terjadi karena hilangnya transparansi kornea sehingga terjadi kerusakan jaringan. Mata bayi juga membesar karena cairan dalam mata yang meningkat.  

Pengobatan dan perawatan

Pengobatan bisa dilakukan dengan cara terapi medis seperti penggunaan tetes mata dan obat-obatan lainnya. Hal tersebut mampu memperlambat kerusakan mata, akan tetapi pembedahan menjadi pilihan utama agar tekanan bisa berkurang secara permanen.  

Jenis pembedahan tergantung dengan kondisi kornea bayi, beberapa diantaranya yaitu goniotomy dan trabeculectomy. Ganiotomy dilakukan jika kornea transparan, sedangkan trabeculectomy dilakukan jika kornea buram. Keduanya sama-sama bertujuan untuk memberikan saluran cairan mata sehingga mampu berfungsi dengan baik. Tindakan operasi dapat dilakukan lebih dari satu kali sampai tekanan mata turun.

Berdasarkan penelitian British Journal of Ophthalmology, tingkat keberhasilan trabeculectomy ternyata lebih tinggi dibandingkan goniotomy pada pasien congenital glaucoma tingkat ringan, sedang, maupun parah.

Dokter akan memberikan sayatan kecil pada bilik mata bagian depan untuk memperlancar cairan mata keluar. Setelah 2-3 bulan dilakukan trabeculectomy, pasien perlu diberikan obat-obatan pendukung serta tetap rutin melakukan kontrol ke dokter. Biasanya tindakan ini dilakukan jika pengobatan topikal dan laser mata tidak memberikan hasil yang diinginkan.

Komplikasi yang ditimbulkan

Tekanan yang tinggi pada mata jika tidak diobati atau pengobatn tertunda akan mengakibatkan komplikasi berat dan gangguan penglihatan signifikan bagi bayi. Berikut ini merupakan komplikasi penyakit yang mungkin terjadi:

  • Tekanan mata tidak berkurang sesuai yang diharapkan
  • Tekanan mata berkurang terlalu banyak
  • Amblyopia atau mata malas
  • Ablasi retina atau jaringan retina terpisah dari posisi normal
  • Astigmatisme
  • Dislokasi lensa

Peningkatan tekanan cairan mata mungkin saja kembali terjadi sewaktu-waktu sehingga perlu dilakukan pengecekan dokter mata secara berkala selama seumur hidup.

Selain itu, komplikasi juga bisa timbul setelah dilakukan tindakan operasi trabeculectomy, beberapa komplikasi tersebut antara lain:

  • Infeksi mata
  • Kelopak mata turun
  • Mata bengkak
  • Terbentuknya jaringan parut
  • Pendarahan mata
  • Penurunan penglihatan

Meskipun tidak bisa dipastikan, namun penglihatan biasanya kembali normal dan jernih dalam waktu 2 sampai 12 minggu setelah operasi. Apabila timbul masalah lain atau tidak kunjung pulih setelah jangka waktu yang ditentukan sebaiknya segera hubungi dokter.

Bart

E-mail : admin@cremasonline.com

Submit A Comment

Must be fill required * marked fields.

:*
:*