Memperkenalkan Milna Puff Untuk Bayi

  • June 4, 2021
Milna Puff

Pada saat anak berusia 6 bulan, si kecil membutuhkan lebih banyak nutrisi dan telah siap untuk memulai mencoba makanan padat atau MPASI. Para ahli sangat merekomendasikan untuk hanya memberikan ASI pada 6 bulan pertama kehidupan anak dan terus memberinya ASI hingga berusia 2 tahun atau lebih. ASI merupakan bahan makanan yang sangat ideal untuk bayi. Jika Anda tidak dapat memberi anak ASI, gunakan formula yang telah difortifikasi zat besi. Bayi tidak membutuhkan cairan atau makanan padat lainnya saat berusia di bawah 6 bulan. Baru setelah ia berusia 6 bulan, camilan MPASI seperti Milna puff dapat diberikan. 

Bayi yang diberi ASI eksklusif dan bayi yang diberi kombinasi antara ASI dan formula membutuhkan 400 IU vitamin D setiap harinya dari suplemen. Sementara bayi yang diberi formula saja tidak membutuhkan suplemen vitamin D. Bayi sudah dapat memulai mengonsumsi makanan padat seperti Milna puff saat ia berusia 6 bulan, di mana merupakan waktu tepat di mana ia bisa mendemonstrasikan rasa ketertarikan dan penasaran akan makanan padat dan perilaku makan keluarga, telah mulai transisi dari menggunakan refleks mengisap menjadi menelan dan tidak mendorong sendok atau benda lain menggunakan lidah saat diletakkan di mulut, dapat duduk tanpa bantuan apapun, dan memiliki kontrol kepala dan leher yang baik. 

Pada saat bayi Anda siap untuk mulai mengonsumsi makanan padat seperti Milna puff, pastikan Anda mengikuti panduan yang direkomendasikan, seperti terus menawarkan ASI atau formula saat memperkenalkan MPASI dan berikan bayi makanan tinggi zat besi, misalnya cereal bayi yang difortifikasi zat besi, ikan atau daging yang telah dilembutkan, kuning telur yang dihaluskan, dan tahu. Penting untuk diingat agar Anda tidak menambahkan cereal ke dalam botol bayi. Beri si kecil makan lewat sendok dan cereal dapat ditambah ASI, formula, atau air untuk membuatnya lebih kental. Saat keberagaman diet si kecil bertambah atau meningkat, tambahkan makanan yang kaya kandungan vitamin C, seperti jeruk, buah beri, tomat, dan bayam bersamaan dengan makanan yang tinggi kandungan zat besi. Vitamin C dapat membantu bayi menyerap zat besi. 

Anda juga perlu memantau si kecil sebelum memperkenalkan makanan baru lain. Strategi ini dapat membantu mengidentifikasi makanan yang dapat menyebabkan reaksi seperti ruam, muntah, kemerahan, gatal-gatal, dan diare dengan cepat. Jika Anda memiliki riwayat keluarga menderita alergi, konsultasi dengan ahli diet atau dokter. Para ahli tidak akan merekomendasikan pemberian makanan apapun untuk mencegah terjadinya alergi, termasuk beberapa alergen yang umum menyebabkan reaksi alergi, seperti kacang, telur, produk susu (seperti yogurt dan keju), gandum, kacang kedelai, makanan laut, dan wijen. 

Perkenalkan makanan tersebut secara perlahan dan satu per satu dalam setiap waktu. Hal ini akan dapat membantu Anda mengidentifikasi apakah sebuah makanan dapat menyebabkan reaksi alergi seperti gatal-gatal, ruam, pembengkakan, dan kemerahan. Jika Anda berpikir bahwa anak memiliki reaksi alergi terhadap makanan, hentikan pemberian makanan tersebut dan berkonsultasilah dengan dokter. Berikan anak berbagai macam jenis makanan namun dengan tekstur yang lunak, seperti Milna puff, telur matang, dan pisang. Pastikan tidak ada potongan yang dapat menyebabkan tersedak. Saat bayi tidak lagi minum ASI ataupun formula, dokter dapat merekomendasikan suplemen vitamin D. Tanya dokter seberapa banyak anak membutuhkan vitamin D dan sumber vitamin D apa saja yang baik dan aman untuk bayi. 

Bart

E-mail : admin@cremasonline.com

Submit A Comment

Must be fill required * marked fields.

:*
:*