Jangan Sembarang Batuk! Ini Dia Etika Batuk yang Perlu Diperhatikan

  • February 6, 2020

Batuk pada dasarnya adalah mekanisme alami tubuh untuk mengeluarkan sumbatan yang berada di saluran pernapasan. Dalam kasus tertentu, batuk dapat menjadi pertanda adanya penyakit tertentu. Tidak jarang, banyak orang yang mengalami batuk dan disertai dengan penyakit lain, seperti flu.

Serupa dengan flu, batuk juga kerap kali menular. Seseorang yang tidak mengetahui etika batuk yang benar berisiko menularkan batuk pada orang-orang di sekitarnya. Maka dari itu, penting bagi Anda untuk memperhatikan etika batuk agar penularan penyakit dapat dibatasi dan tidak semakin melebar.

Etika batuk yang perlu diperhatikan

Ketika Anda sedang tidak enak badan dan sering mengeluarkan batuk, terutama jika Anda berada di tengah kerumunan, beberapa hal yang perlu Anda perhatikan, antara lain:

  • Siap sedia masker dan gunakan masker selalu.
  • Tidak tidak mengenakan masker, maka tutuplah mulut dan hidung menggunakan tisu ketika batuk. Jika tidak terdapat tisu di sekitar Anda, maka tutuplah hidup dan mulut dengan siku bagian dalam.
  • Jangan batuk di depan wajah orang lain, melainkan palingkanlah wajah Anda ketika sedang batuk.
  • Buanglah tisu yang telah Anda gunakan untuk menutup hidung dan mulut Anda ketika batuk ke tempat sampah.
  • Cuci bersih tangan Anda dengan air mengalir dan sabun maupun hand sanitizer.
  • Jika Anda belum mencuci tangan, usahakan untuk tidak memegang barang yang digunakan bersama-sama dengan orang lain maupun menyentuh orang lain.
  • Jika memang Anda telah terlanjur menyentuh benda tersebut, bersihkan segera menggunakan desinfektan.
  • Ketika Anda sedang sakit, usahakan untuk menjaga jarak dengan orang lain hingga kondisi Anda telah membaik.

Mengingat fakta bahwa infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) cenderung bertransformasi menjadi epidemi dan pandemi, etika batuk ini perlu Anda terapkan agar air liur yang dikeluarkan ketika Anda batuk tidak menyebar dan menyebabkan orang lain tertular. Tidak hanya etika batuk, namun juga kebersihan saluran pernapasan juga perlu untuk diperhatikan. Tindakan ini perlu untuk dilakukan agar sumber infeksi potensial dapat dikendalikan.

Jangan Gunakan Antikoagulan Jika Anda Mengalami Kondisi Ini

  • January 23, 2020

Jika Anda penderita penyakit jantung, stroke akibat penyumbatan, emboli paru, atau tromobosis vena dalam, pasti jenis obat antikoagulan tidaklah asing di telinga Anda. Salah satu contohnya adalah warfarin. Saat memberikan antikoagulan, diperlukan beberapa pemeriksaan darah. Pemeriksaan ini bertujuan untuk mengetahui kondisi darah Anda sebelum memberikan obat pengencer darah ini.

Setelah mengetahui kondisi darah Anda, maka dokter akan menyesuaikan dosis pemberian antikoagulan Anda sehingga efek yang diharapkan sesuai dan tidak merugikan Anda. Namun, terdapat beberapa kondisi dimana antikoagulan bisa berbahaya bagi penggunanya jika mengalami kondisi berikut ini:

  1. Tindakan operasi

Saat Anda menggunakan antikoagulan dan Anda memerlukan tindakan operasi atau tindakan invasif lainnya, pastikan petugas Kesehatan di tempat tersebut mengetahui akan penggunaan obat antikoagulan Anda. Tindakan invasif termasuk pemeriksaan untuk menegakkan diagnosis seperti endoskopi dan sistoskopi. Tindakan-tindakan ini dapat membuat luka dalam prosesnya. Jika Anda menggunakan antikoagulan, maka pendarahan dari luka ini akan menghasilkan darah yang lebih banyak dari normalnya.

  • Ibu hamil

Antikoagulan seperti warfarin umumnya tidak diberikan pada ibu hamil karena dapat mengganggu bayi dalam kandungan. Kondisi ini, bayi bisa mengalami pendarahan atau kecacatan akibat penggunaan obat. Biasanya  jika memang diperlukan, dokter akan memberikan antikoagulan pada kehamilan trimester kedua, yaitu bulan ke 5 hingga ke 8 bulan kehamilan. Jika Anda sedang mengongumsi antikoagulan, sebaiknya gunakan kondom saat berhubungan dengan pasangan Anda untuk mencegah kehamilan.

  • Saat masa menyusui

Antikoagulan warfarin biasanya akan tetap dapat Anda gunakan saat menyusui bayi Anda. Heparin juga masih tergolong aman untuk ibu menyusui. Namun, jika Anda dalam penggunaan antikoagulan lain, Anda perlu beritahu dokter agar antikoagulan yang diberikan dapat disesuaikan dengan kondisi Anda.

  • Mengalami luka

Anda perlu menghindari terjadinya luka saat menggunakan antikoagulan. Luka yang dimaksud adalah luka fisik yang dapat menyebabkan keluarnya darah. Berhati-hati saat menyikat gigi, bercukur atau berkegiatan lainya. Luka kecil saja dapat membuat pendarahan yang lebih banyak dari biasanya saat Anda menggunakan antikoagulan.

  • Makanan dan minuman tertentu

Saat menggunakan antikoagulan, perhatikan menu makanan yang Anda konsumsi. Sayuran dan hati yang banyak mengandung vitamin K perlu dikontrol jumlahnya. Selain itu, konsumsi alkohol juga perlu dihindari.

Cara Ampuh Atasi ISK dengan Antibiotik Saluran Kemih

  • January 1, 2020

Antibiotik saluran kemih merupakan Langkah pengobatan utama ketika Anda positif mengidap infeksi saluran kemih (ISK). Cara pemberianya bisa melalui suntikan atau minum, tergantung kondisi dan posisi ISK itu sendiri. Namun apakah Anda tahu jika berulang kali terkena penyakit ini, Anda bisa-bisa harus mengonsumsi antibiotik ini hingga lebih dari 6 bulan?

Fakta ini bukan untuk menakut-nakuti, memang benar bagi wanita yang terserang bakteri penyebab infeksi saluran kemih lebih dari 3 kali dalam satu tahun, konsumsi antibiotik dengan dosis rendah dalam jangka waktu Panjang tidak terhindarkan.

Cara menghindari risikonya

Ketika Anda divonis positif ISK untuk pertama kalinya, jangan sekali-sekali menghentikan konsumsi antibiotik yang diresepkan oleh dokter. Biasanya, bagi wanita yang pertama kali menderita ISK, dokter hanya akan meresepkan antibiotik untuk 2-3 hari atau maksimal 14 hari (bagi penderita ISK berat). Jika Anda hanya mengalami ISK ringan, dokter biasanya akan meresepkan antibiotik, seperti fosfomycin, ceftriaxone, cephalexin, nitrofurantoin, maupun trimethropim/sulfamethoxazole.

Sementara antibiotik fluoroquinolone dan levofloxacin akan diberikan pada penderita ISK parah atau yang juga menderita infeksi ginjal. Ketika Anda divonis menderita ISK berat, dokter bisa saja meresepkan antibiotik suntik.Sedangkan pada ibu hamil yang terkena ISK, dokter akan meresepkan antibiotik yang cenderung tidak memengaruhi perkembangan janin. Misalnya, amoxicillin, erythromycin, maupun penisilin.

Saat proses penyembuhan dengan antibiotik ini, Anda mungkin akan merasa jenuh dan ingin menghentikan pengobatan. Apalagi, jika gejala ISK, seperti rasa sakit atau terbakar ketika buang air kecil, tidak Anda rasakan lagi. Jika konsumsi antibiotik memang harus dihentikan, biarkan dokter yang memutuskan hal itu setelah melakukan serangkaian pemeriksaan pada saluran kemih.

Pasalnya, menghentikan konsumsi antibiotik sebelum waktunya hanya akan membuat bakteri penyebab ISK bisa kembali berkembang sehingga menyebabkan ISK kambuhan. Semakin sering Anda terinfeksi bakteri penyebab ISK, semakin lama Anda harus mengonsumsi antibiotik. Jadi, lebih baik menuntaskannya sekarang daripada mengulang prosesnya dari awal.

Semua obat yang katanya alami pun, pasti memiliki efek sampingnya, tidak terkecuali antibiotik saluran kemih. Untuk antibiotik saluran kemih sendiri, efek samping yang ditimbulkan bisa berupa diare, mual atau muntah, sakit kepala, ruam, dan kerusakan pada otot tendon atau saraf.